Perawatan burung cikrak daun: Si kecil bersuara mirip moza

Satu lagi burung kecil yang banyak dicari kicaumania Indonesia saat ini adalah cikrak daun atau mountain leaf-warbler (Phylloscopus trivirgatus). Ada beberapa sebutan untuk burung ini, sesuai dengan daerah masing-masing, misalnya burung tralis, pare-pare, blereng, atau sirlis. Yang membuat banyak kicaumania kesengsem adalah suaranya yang ngerol seperti mozambik atau blackthroat. Suaranya bahkan mampu memancing burung lain ikut berbunyi seperti pleci, anis kembang, dan anis merah.

Cikrak daun atau Phylloscopus trivirgatus - Mahkota dan setrip alis sangat mencolok, tidak ada garis pada sayap

Cikrak daun: strip pada mahkota dan alis sangat mencolok.

Postur tubuhnya sebenarnya mungil sekali, dengan panjang tubuh hanya sekitar 11 cm (termasuk bulu ekor). Seluruh bulu di tubuhnya didominasi warna kuning dan hijau. Warna tubuh bagian atas (termasuk punggung) hijau zaitun, tanpa garis pada sayapnya. Sedangkan tubuh bagian bawah (dada dan perut) berwarna kekuningan.

Bagian atas kepala (mahkota) hingga daerah yang sejajar dengan mata berwarna gelap, ada yang hitam atau abu-abu tua. Tetapi ada strip kuning mencokok atau hijau zaitun di bagian mahkota dan alis matanya.

Wilayah persebaran burung ini mencakup tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Filipina, tergantung subspesiesnya. Secara keseluruhan ada 11 subspesies cikrak daun, yaitu :

  1. Phylloscopus trivirgatus trivirgatus (Strickland, 1849) : Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa.
  2. Phylloscopus trivirgatus parvirostris (Stresemann, 1912) : Semenanjung Malaysia (dari selatan Perak sampai Pahang).
  3. Phylloscopus trivirgatus kinabaluensis (Sharpe, 1901): Gunung Kinabalu (dan kemungkinan juga terdapat di daerah Pegunungan Muratus), Kalimantan bagian utara. Ciri: lebih abu-abu dan kurang kuning.
  4. Phylloscopus trivirgatus sarawacensis (Chasen, 1938) : Kalimantan bagian utara dan barat-laut (Pegunungan Trus Madi, Mulu dan Nyiut, Pegunungan Poi di Sarawak barat).
  5. Phylloscopus trivirgatus benguetensis (Ripley & Rabor, 1958) : Filipina utara (Luzon utara).
  6. Phylloscopus trivirgatus nigrorum (Moseley, 1891) : Filipina tengah dan tengah bagian utara (Luzon selatan, Mindoro, Panay, Negros).
  7.  Phylloscopus trivirgatus flavostriatus (Salomonsen, 1953) : Gunung Katanglad dan pegunungan di provinsi Misamis Oriental, di Mindanao tengah bagian utara, Filipina.
  8. Phylloscopus trivirgatus diuatae (Salomonsen, 1953) : Camiguin Sur dan Mindanao timur-laut (Gunung Hilong-Hilong), di Filipina selatan.
  9. Phylloscopus trivirgatus malindangensis (Mearns, 1909) : Semenanjung Zamboanga dan Gunung Malindang, di barat-laut Mindanao.
  10. Phylloscopus trivirgatus mindanensis (E. J. O. Hartert, 1903) : Mindanao selatan (Gunung Apo, Gunung Mayo), Filipina.
  11. Phylloscopus trivirgatus peterseni (Salomonsen, 1962) : Filipina barat (Palawan).
CIKRAK DAUN ATAU TRALIS SUARA NGEROLLNYA MIRIP MOZAMBIK

Burung cikrak daun atau tralis, suara ngerolnya mirip mozambik

Membedakan burung jantan dan betina

Sexing pada burung cikrak daun memang tidak mudah, karena penampilan burung jantan sekilas hampir sama dengan burung betina. Tetapi ada beberapa tengara yang bisa membantu Anda saat melakukan sexing, terutama ketika berada di pasar burung, dan di sana tersedia beberapa ekor burung cikrak daun.

Postur tubuh dan kepala burung jantan biasanya lebih kecil daripada burung betina. Burung betina selain bertubuh lebih besar, dicirikan dengan lehernya yang pendek. Yang paling mencolok adalah, posisi burung betina saat berdiri terlihat seperti sedang jongkok, dengan menaikkan pantatnya.

Perawatan harian cikrak daun

Burung cikrak daun membutuhkan asupan pakan yang mengandung banyak nutrisi agar burung tidak mudah lemas. Hal itu bisa diperoleh melalui pemberian pakan tambahan setiap hari seperti kroto, ulat kandang, jangkrik kecil atau serangga lainnya. Agar burung tetap fit, sehingga rajin berkicau, jangan lupa diberi multivitamin khusus burung.

Perawatan harian yang bisa Anda terapkan di rumah untuk perawatan burung ini adalah :

  • Pengembunan dimulai pada pagi hari. Biarkan burung dikeluarkan pagi-pagi hari sekali untuk menyongsong terbitnya matahari, karena matahari pagi sangat menyehatkan burung, dan juga baik untuk melatih mental burung.
  • Pakan utamanya adalah voer lembut atau halus. Jika Anda sudah percaya dengan merek voer tertentu, tetapi butirannya besar-besar, silakan dihaluskan dulu dengan menggunakan blender atau ditumbuk hingga halus.
  • Setiap pagi, burung diberi 1 sendok teh kroto.
  • Setelah dimandikan , burung diangin-anginkan dan diberikan extra fooding (EF) seperti jangkrik kecil atau ulat kandang secukupnya.
  • Penjemuran dilakukan selama 30 – 60 menit saja.

Apabila kebetulan Anda mendapatkan burung bakalan atau belum mengenal pakan kering seperti voer, maka proses perawatan harus diawali dengan melatih burung agar mau ngevoer. Caranya bisa dilihat di sini atau di sini.

Perhatian:

Burung kecil ini juga dikenal sangat lincah. Tidak sedikit penggemar burung yang mengeluh burungnya lepas saat mengganti pakan dan air minumnya. Jadi, mohon lebih waspada saat membuka pintu sangkar.

Yang terpenting dalam perawatan cikrak daun adalah kebutuhan nutrisi dari pakan utama maupun EF, termasuk vitamin dan mineral. Dua komponen terakhir ini sering diabaikan sebagian kicaumania. Meski jumlah yang dibutuhkan sangat sedikit, tetapi kalau sampai kekurangan bisa berakibat fatal.

Selain itu, meski jumlah yang dibutuhkan sangat sedikit, belum tentu vitamin dan mineral tersedia secara komplet dalam bahan pakan, termasuk pakan pabrikan seperti voer. Karena itu, untuk memastikan kecukupan vitamin dan mineral, dianjurkan untuk menggunakan multivitamin (misalnya BirdVit) dan multimineral (BirdMineral) secara berkala. Multivitamin bisa diberikan 2x dalam seminggu, sedangkan multimineral cukup seminggu sekali.

Berikut ini tayangan video dan audio dari burung cikrak daun :

  • Video burung cikrak daun

Oh ya, sampai saat ini burung cikrak daun masih berstatus Least Concern / LC (Risiko Rendah) menurut IUCN Red List. Jadi, silakan merawat burung ini dengan sebaik-baiknya. Akan lebih bijaksana lagi jika Anda mau menangkarnya.

Semoga bermanfaat.

Salam sukses, Salam dari Om Kicau.

diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja).

Navigasi Utama:

About these ads

There are 5 comments

  1. sapta

    om, ni kayaknya masih seperguruan sama cipoh dan opyor, tapi karakter suaranya beda.
    klo saya piara 33nya (cipoh, opyor, sama cikrak daun) kira-kira eveknya bagus ga om buat ke tiganya

  2. Efryantoni

    Ada 1 lgi yg persis blackthroat atau mozambik,yaitu blackcapped white eye (zosterops atricapilla) untuk rfrensi suara, foto dan video.bsa dilhat di FB group blackcapped mania, om. Klo bsa tlong dimuat menjadi artikel,om. Untk rwtan sama sja, cuma pmbrian EF kroto 2 sndok makan/hari, dan djmur sbntar krn hbitatnya di daerah pgunungan jd gak than panas. Mkasih sblmnya,om.

  3. rendi ranjani

    terima kasih untuk artikel tentang blerengnya om
    saya senang sekali dengan burung blereng, karena harga yang masih terjangkau
    mudah gacor, tapi sayang sampai saat ini masih belum bisa merawat dengan baik untuk burung ini
    pelihara bakalan ataupun yang sudah mapan selalu tidak berumur panjang

    ini burung kepanasan sebentar mati
    kalau malam kedinginan juga mati
    jadi pusing dah peliharanya
    baca di beberapa forum ada yg bilang pasokan ulat hongkong / kandang nya ga bole habis
    harus selalu disediakan karena burung ini benar2 rakus dalam hal makan ( dan sulit nge voer )

    saya pelihara 2 saat ini tiap pagi kasi kroto + ulat kandang dalam porsi yg besar
    tiap ulat kandangnya habis saya isi lagi yang baru
    untuk ulat hongkong tidak terlalu banyak karena takut matanya mletis / buta
    apa benar ulat hongkong yg terlalu banyak menyebabkan mata burung mletis om ?
    trims

Komentar ditutup.