Seiring maraknya lomba burung, geliat harga burung (khususnya burung bahan) di Pasar Pramuka Jakarta terus merangkak naik. Untuk jenis burung favorit berkategori lomba (non isian) seperti anis merah, murai batu, cucak hijau, kacer, kenari, lovebird, dan kenari kecenderungan naik sangat terasa setahun belakangan ini. Berbeda dengan jenis pentet, tledekan, branjangan masih tetap stabil.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Jenis anis merah misalnya, meskipun masih trotolan toh peminatnya sampai memasuki pertengahan tahun ini masih tinggi, anakannya banyak diburu. Beruntung, stok anakan masih banyak tersedia meskipun mu-sim produksi di habitatnya sudah hampir lewat.

Berbeda dengan trotolan anis merah yang sampai saat ini masih banyak tersedia di kios-kios, lain halnya dengan murai batu, terutama asal Lampung maupun Medan meskipun bahan (belum makan voer) jenis ini paling tinggi peminatnya.

Sayangnya, permintaan pasar yarig begitu tinggi, tidak diimbangi stok burung yang tersedia.

Simak saja penuturan Abu, pemilik kios di pasar tersebut, untuk murai terutama asal Sumatera peminatnya terus mengantri, kiriman 100 ekor dalam waktu 2-3 hari saja langsung ludes diserbu pembeli. “Sampai saat ini, selain anis merah trotolan, bahan murai batu medan masih tetap dicari,.barangnya langka,” tandas Abu.

Dari pemantauan Agrobur di Pramuka, jenis murai asal Medan ekor panjang memang nyaris tak banyak dijumpai. Kalaupun ada, paling banter hanya satu atau dua ekor di beberapa kios tertentu. Justru hanya jenis kenari lokal yang lebih mendominasi di berbagai kios di pasar tersebut.

Harganya pun beragam, saat ini harga paling murah dibanderol Rp 60.000 untuk seekor kenari lokal bahan. Di kios milik Sharbo misalnya, jenis kenari jokal paling banyak dipajang dan dipantau. “Mungkin karena harganya yang terjangkau jenis kenari masih tetap dicari penggemarnya,” jelas grosir kenari di pasar terbesar di Asia ini.

Yang jelas, menurut pria sepuh yang sudah puluhan tahuh membuka kios spesialis kenari ini harga kenari lokal semakin hari mulai bagus, meskipun kiriman dari penangkar seperti Jawa Tengah dan Malang terus membanjir. Ternakan lokal ini yang masih banyak diminati.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Begitu juga dengan jenis lovebird, terutama jenis kacamata. Burung ini yarig paling banyak dijual umumnya impor dari Belanda dan Taiwan. Impor banyak diminati karena rata-rata usia burung sudah berumur. Lain halnya lovebird ternakan lokal yang umumnya masih muda-muda 3-4 bulanan, haganya lebih murah.

“Untuk lovebird, harganya terus naik beberapa bulan belakangan ini, mereka bukan hanya untuk dilombakan, tapi juga beli untuk diternakkan,” ungkap Sharbo.

Hanya jenis pentet, tledekan dan branjangan yang harganya cenderung stabil masih di kisaran di bawah seratus ribu rupiah. Boleh dibilang harganya cenderung tertinggal oleh jenis burung master (isian) seperti cucak jercggot, srindit, pancawarna yang terus merangkak naik.

“Khusus jenis cucak jenggot bahan harganya juga naik terus, mungkin karena banyak digunakan sebagai masteran sekaligus buat lomba, karena kelasnya kan sudah mulai ramai,” timpal Mamas, pedagang lainnya di blok. berbeda.

Sedangkan burung-burung jenis lain yang masih tiriggi harganya seperti cucakrawa juga masih jadi primadona. Bahkan khusus cucakrawa ring, walaupun sekarang harganya sudah menembus di kisaran Rp 5 juta sepasang masih banyak diincar penggemarnya. Tingginya harga burung yang semakin tak terkendali, toh masih diserap pasar. Seperti halnya dengan jenis anis merah, murai batu dan sej’enisnya masih terus diburu penggemar fanatiknya. (Dari Agrobis Burung Minggu II Juni 2010)

Berikut ini daftar harga burung di Pasar Pramuka menurut pantauan Agrobis Burung.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

-7.550085110.743895