Wayan Sumiarta

Di tengah cuaca yang terus memburuk yang menyebabkan banyak penangkar berkurang produktivitas tangkarannya, D’yan BF bali malah menambah kandang murai untuk 11 pejantan baru agar tetap bisa memenuhi pasar lokal Bali yang cenderung naik.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Berawal dari banyaknya peternak murai di Bali yang gagal melakukan panen karena cuaca yang kurang menentu yang juga menyebabkan banyak indukan dan piyikan di banyak penangkaran mati, D’yan BF yang berlokasi di Desa Penyaringan Mengwi Badung, bertekad tetap bisa mensuplai pasar.

Untuk mensiasati minat pasar yang terus naik di tengah minimnya produksi itulah Wayan Sumiarta merekrut 11 ekor pejantan berkualitas untuk segera dimasukkan ke kandang. Dari 11 pejantan tersebut, enam di antaranya diambil ketika menjuarai lomba di Bali.

Sedangkan yang lainnya rata-rata memiliki karakter lomba yang kuat. “Kami memang selektif memilih materi kandang, terlebih lagi anakannya nanti untuk orientasi lomba’,” papar Wayan Sumiarta ketika ditemui Agrobur di sela-sela Latber Ramadan Minggu, 22 Agustus 2010 di Pasar Sanglah Denpasar.

Untuk mempersiapkan materi-materi unggul ini, Sumiarta rela merogoh kocek agak dalam. Namun hal ini diakuinya wajar. Pasalnya untuk mencari anakan yang bagus mesti berasal dari indukan yang bagus pula. Trah darah, diyakiniriya menurun ke anakannya. “Hal ini sudah banyak terbukti di lapangan. Sebut saja Simba yang moncer di latber Ramadan merupakan anak dari burung juara, termasuk juga betinanya harus punya mental tarung yang bagus.

Dari pengalaman beternak dan hasil yang sudah dicapai di lapangan inilah kemudian memacunya untuk terus membeli pejantan yang moncer di lapangan.

Selain pejantan sudah “lulus seleksi” di lomba untuk membuktikan kualitas mental bertarungnya sehingga diharapkan menurun ke anakannya, harus dibarengi pemilihan betina yang juga berkualitas.

Rata-rata, betina yang dipasangkan merupakan-anakan burung-burung juara dan punya mental tarung yang kuat.

D’yan BF yang sudah memiliki enam kandang murai produktif ini bakal menambah beberapa kandang lagi untuk memasukkan materi yang baru didapat. Sementara anakan-anakan yang istimewa khususnya cewek dipersiapkan untuk dikondisikan menjadi indukan baru.

Sedangkan anakan jantan dikondisikan untuk dicoba diturunkan ke lapangan. “Beberapa di antaranya sedang dalam tahap pemasteran,” kata Sumiarta.

Penyakit

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Sejak cuaca tidak menentu akhir-akhir ini, diakuinya banyak ditemukan kasus mati piyik pada murai dan cucak rowo di Bali. Bahkan ada yang sampai merenggut burung dewasa. Penyebabnya ada yang terserang snot tetapi ada juga yang diakibatkan oleh mencret sampai berak darah. Kasus snot dan juga megap-megap pada piyik murai kini sudah bisa diatasi di D’yan BF melalui obat khusus buat penyakit tersebut. “Mulanya saya juga kesulitan tetapi setelah terus mencoba berbagai obat dan akhirnya kami menemukan satu produk itu ternyata berhasil menyembuhkan mangap-mangapnya,” kata Sumiarta.

Selain kasus mangap-mangap yang terjadi di saat cuaca yarig tidak bagus, juga muncul penyakit mencret. Padahal pemberian pakan dan sanitasi kandang sudah terjamin higienis. la memperkirakan penyakit ini disebabkan virus yang terbawa dan muncul karena kondisi alam yang tidak menentu.

Setelah beberapa uji coba, dari pencegahan melalui pengaturan pola makan jangkrik agar benar-benar sehat dengan memberikan jagung dan kecambah pada jangkrik, juga dilakukan pengobatan secara alami.

Cegah dan atasi penyakit burung dengan kebersihan lingkungan dan pemberian multivitamin.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Misalnya dengan memberikan daun jambu biji ketika kasus mencret ditemukan. Caranya, ujung daun jambu biji dimasukkah ke dalam perut jangkrik dan selanjutnya diberikan kepada piyik murai dan cucakrowo.

Pemberian bisa dilakukan lima kali sehari yang diselang-selingi dengan pemberian pakan voor lembek.

Beberapa kasus mencret akhirnya bisa normal kembali setelah menggunakan pengobatan alami dengan daun jambu biji. “Sudah puluhan ekor bisa sembuh dan sehat kembali,” ucap Wayan Sumiarta yang kini sudah memiliki puluhan kandang cucakrowo, murai, lovebird dan kenari.

Dia menyarankan, jika ditemukan kasus penyakit pada piyik, sebaiknya segera dipisahkan dari burung lain.

Pasalnya penyakit burung mudah menular terlebih lagi jika ditaruh di dalam satu sangkar atau sarang. Dengan pencegahan melalui pemberian pakan dan lingkungan yang higienis, vitamin dan mineral yang cukup, serta tepat alami memberikan pengobatan pada indukan dan piyik maka kematian burung bisa ditekan meski dalam cuaca yang buruk sekalipun. (Sumber: Agrobur)

Pastikan cegah snot dengan StopSnot. Atasi burung megap-megap dengan BirdTwitter. Jika mencret… ya di-BirdBlown saja…. Keterangan lebib lanjut, klik di sini.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

-7.550085110.743895