Pekan lalu, Mr H Bagya Rahmadi SH terpilih sebagai ketua umum Pelestari Burung Indonesia (PBI) Pusat periode 2013 – 2018. Dia menggantikan Dr Made Sri Prana yang sudah tiga periode berturut-turut jadi nahkoda PBI. Mr Bagya mulai dikenal di kalangan perburungan sejak 2002, ketika untuk pertama kalinya mengikuti lomba burung. “Jagoan saya blacken bernama Si Manis, yang kemudian jadi langganan juara,” kenang Mr Bagya, dalam percakapan dengan omkicau.com.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Mr H Bagya SH

Ketika itu, Mr Bagya bergabung dalam ABC Team, yang antara lain beranggotakan Drs Bambang Wisnu (kolega sekantor di Pemerintah Propinsi DIY), Budiarjo Akt, YR Handoko, Ibu Ida, dan Surono.

ABC Team pada akhirnya tumbuh menjadi bird club (BC) yang besar dan sangat disegani, yang sering melanglang ke berbagai daerah dengan mencarter bus besar. ABC pernah meraih predikat juara umum BC di berbagai lomba tanpa putus, selama beberapa tahun.

Nama Mr Bagya makin melambung ketika dia sukses mengorbitkan kenari bernama Ken Sam Rock (KSR), salah satu kenari legendaris di Indonesia karena prestasi fantastisnya selama bertahun-tahun mengikuti lomba. Bahkan KSR dijadikan sebagai basic blood untuk mencetak generasi juara berikutnya.

Dari sinilah Mr Bagya bergerak dari pelomba menjadi pelomba plus penangkar kenari. Nama Mr. Bagya selalu melekat dengan nama Ken Sam Rock. Apalagi banyak keturunan KSR yang menjadi juara. Semua keturunan Ken Sam Rock diberi nama KSR, yang diikuti nomor urut keturunannya.

Hingga sekarang, Mr. Bagya masih bertahan dengan breeding kenari, dengan basic blood KSR. “Tapi saat ini, saya lebih fokus pada isian. Selain itu, saya lebih senang menikmati kicaunya di rumah. Mau dibawa ke lomba kok sayang, takut glender,” jelas Mr Bagya, di sela-sela kontes Jelovefa Cup, Ungaran, Minggu (17/3) lalu.

Adapun untuk burung lomba, andalannya saat ini adalah anis kembang Anggun, cucak hijau Ijo Royo-Royo, cucakrowo (ring) Rowo Ngebel, dan tledhekan. “Dulu juga ada murai batu Bunga Desa. Sayangnya, setelah masuk kandang breeding dan sempat menghasilkan anakan, Bunga Desa malah mati,” ujarnya.

Mr Bagya (kiri) Bersama koleganya, Drs Bambang Wisnu.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Pada dasarnya, Mr Bagya menyukai semua jenis burung. Bukan hanya kicauan, tetapi juga merpati, baik kolongan maupun balap sprint. Dia pun memiliki beberapa pembalap andalan. Ada perawat khusus yang mengurus, melatih, dan melombakan jawara-jawara merpatinya secara berkala.

Dalam perkembangannya, rekan-rekannya di ABC  Team timbul tenggelam. Karena beberapa alasan, ada yang mulai menjauh dari lomba, namun suatu saat muncul lagi, hilang lagi. Hal ini terjadi pada sejumlah tokoh kicaumania yang lain.

Tetapi tidak demikian dengan Mr Bagya. Sejak menggeluti hobi burung dan mengikuti lomba (2002), dia tak pernah menepi dari lomba burung. Dia selalu melombakan burung, terkadang bisa tiap pekan tiada henti.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

“Kalau saya berhalangan, ada anak-anak yang berangkat. Kadang-kadang pada hari yang sama bisa turun ke dua atau tiga lomba berbeda. Berita baiknya, di semua even, masih bisa meraih prestasi. Saya pernah menyempatkan diri ikut lomba ke Samarinda, Aceh, Palembang, Lampung, dan hampir di semua kota di Jawa,” imbuhnya.

Ketika hadir di even Jelovefa Cup, Ungaran, Mr Bagya bukan ingin merayakan keterpilihannya jadi Ketua Umum PBI Pusat. Ia datang sebagai peserta lomba, sejajar dengan para peserta lainnya. Anggun, burung jagoannya, berjaya di kelas anis kembang.

Ketokohannya dalam lomba maupun penangkaran burung membuat Mr Bagya dipercaya menjadi ketua PBI Cabang Bantul, menggantikan rekannya, Budiharjo. Di bawah kepemimpinannya, Bantul menjadi salah satu PBI Cabang yang paling eksis dalam menggelar lomba burung berkicau, ketika cabang-cabang lain justru makin menyurut.

Kalau Anda ingat beberapa even besar seperti Valentine, Piala Raja, dan belakangan juga ada Paku Alam Cup, itu merupakan buah kerja PBI Cabang Bantul di masa kepemimpinannya. Even-even itu tetap saja memiliki magnet kuat untuk menyedot kicaumania di seluruh Tanah Air. Padahal nilai hadiahnya biasa-biasa saja, bahkan terbilang kecil dibandingkan dengan sejumlah event organizer (EO) lain yang terlihat jor-joran dalam pemberian hadiah.

Dari sinilah kita bisa melihat ketokohan Mr Bagya. Banyak kicaumania yang berharap, termasuk melalui komentar-komentar di omkicau.com, PBI Pusat di bawah kepemimpinan Mr Bagya bisa jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Foto bersama ABC Team beberapa tahun lalu.

Namun tantangan yang dihadapi kabinetnya cukup berat. Meski kelembagaan PBI terbilang besar, tetapi sesungguhnya energinya lemah, dan gerakannya pun melamban. Dalam beberapa tahun terakhir, arah dan gerakan PBI berkesan samar-samar.

Sejumlah kicaumania menilai, satu-satunya yang menunjukkan eksistensi PBI di hadapan publik adalah masih ada beberapa lomba yang digelar. Padahal misi utama PBI adalah pelestarian burung, bukan fokus menggelar lomba.

Pelestarian? Penangkaran? Ah, masih itu-itu aja. Kita belum melihat perkembangan signifikan, misalnya adanya peningkatan jumlah penangkar di Indonesia, setidaknya yang berhimpun dalam PBI. Kalau pun menggelar lomba, mestinya hanya membuka kelas penangkaran (ring) saja. Jadi, seluruh peserta harus burung hasil breeding, hasil olah budidaya manusia, bukan burung hasil tangkapan alam.

Padahal, pembukaan kelas khusus ring sudah pernah diketok para pimpinan PBI Pusat di masa lalu, tapi semuanya tak pernah kesampaian. Pada akhirnya, lomba burung yang digelar PBI pun nyaris sama dengan lomba yang digelar EO lainnya. Sebagian peserta tetap burung hasil tangkapan alam.

PBI juga harus serius dalam menjalankan program regenerasi juri. Selama ini cenderung stagnant, alias jalan di tempat. Dalam beberapa lomba regional maupun nasional, juri-juri yang bertugas hanya itu-itu saja. Tak ada wajah baru yang lebih muda dan segar. Selain itu, banyak juri PBI yang statusnya tak jelas: mundur tidak, bekerja pun tak pernah.

Ini hanya sebagian kecil pekerjaan rumah yang mesti digarap Mr Bagya dan kabinetnya, agar PBI benar-benar tetap eksis, berkembang, dan berjalan di atas rel yang sesungguhnya. Bukan melulu mengurusi masalah lomba, tapi harus fokus pada tujuan besar lainnya: konservasi dan pelestarian burung lokal di Indonesia.

Mr Bagya mengaku akan menjalankan dan meneruskan program yang sudah ada terlebih dulu, seperti diamanatkan dalam Munas PBI di Jakarta, 14-16 Maret lalu. Untuk program baru, dia masih menunggu rakernas yang rencananya digelar di Jogja, tahun ini juga. (Waca Jogja)

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.