Kacer Ningrat kembali menunjukkan prestasinya dalam even Kere Hore di Pasar Burung Banyuputih, Salatiga, Minggu (24/11) kemarin. Burung milik Mr Chandra (Pontianak) yang sehari-hari dirawat Made di Salatiga ini terus mengukir prestasi dalam beberapa pekan terakhir, mulai dari even Gerindra Berkibar (Jepara), serta double winner dalam even New Alaska (Semarang) dan November Rain Star (Pati). Apa rahasia perawatan yang dilakukan Made terhadap kacer Ningrat?

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Kacer Ningrat in action.

—-

Menurut Made, Ningrat setiap hari dimasukkan ke kandang umbaran, mulai pagi hingga pukul 11.00, sambil berjemur. Namun, jadwal umbaran ini hanya berlaku Senin hingga Jumat. Sehari menjelang lomba (H-1), atau Sabtu, burung tidak lagi diumbar agar bisa beristirahat total.

Untuk extra fooding (EF), Made mengaku tidak jauh berbeda dari perawatan burung kacer lainnya. Setiap hari hanya diberi 10 ekor jangkrik, masing-masing lima ekor pada pagi hari dan lima ekor lagi pada sore hari.

Made, perawat Ningrat.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

“Khusus Sabtu, atau H-1, porsi jangkrik dinaikkan jadi 8 ekor pagi dan 8 ekor sore. Pada hari lomba, porsi jangkrik kembali 5 ekor. Namun, menjelang turun pada sesi berikutnya, diberi tambahan lima ekor lagi,” ujar Made.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Dengan perawatan seperti itulah, kacer Ningrat terus berprestasi di Blok Tengah maupun Blok Barat. Beberapa waktu lalu, hampir dua bulan lamanya, Ningrat harus bolak-balik Salatiga – Jakarta, ketika intensitas even akbar di Ibu Kota meningkat. Meski demikian, burung tetap mampu berprestasi serta bersaing dengan beberapa burung jawara dari Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Bahkan, dalam waktu dekat, Mr Chandra akan menurunkan kacer Ningrat dalam dua even nasional, masing-masing Danpomal Lantamal III Cup di Bekasi, Minggu (1/12) mendatang, serta Pakde Karwo Cup 3 di Surabaya, 15 Desember 2013.

“Targetnya sih bisa tampil maksimal dulu. Soal juara atau tidak, kita tak bisa tentukan. Jika memang kalah dari burung yang materi dan penampilannya lebih bagus, ya tidak masalah. Kalau bisa menang, itu lebih membanggakan. Yang penting, lomba berjalan fairplay. Jadi, kalah atau menang, hati tetap happy,” kata Mr Chandra, melalui pesan BBM.

Menurut Mr Chandra, dalam lomba burung berkicau, tidak ada istilah juara sejati. Suatu saat, jagoan sehebat apapun bisa kalah, karena burung adalah makhluk hidup yang performa gaya dan suaranya sangat ditentukan oleh kondisi fisiknya saat lomba, dan terkadang faktor cuaca saat lomba juga.

Mr Chandra (kiri) bersama Drs Soeprodjo WS.

—-

Dia bisa mengatakan hal tersebut, karena Ningrat juga pernah tampil tidak maksimal dalam kondisi tertentu. Misalnya, dalam kontes 1st Anniversary TKKM Jogja, beberapa waktu lalu. “Penampilannya tidak bisa maksimal, lantaran hujan deras turun di tengah lomba, dan itu tidak mendukung setelan Ningrat,” jelasnya.

Bahkan sepulang lomba, Made pun harus mengatur kembali setelannya dan dipanaaskan dalam Kere Hore Salatiga. Ternyata penampilannya sudah jauh lebih meningkat, dan siap digenjot ke even lebih besar lagi. (Waca)

—-

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.