Selain sukses menangkar murai batu trah jawara, Cici Bird Farm (CBF) juga sukses breeding lovebird unggulan. Sama seperti murai batu, produk lovebirdnya juga laris-manis. Apalagi beberapa lovebird hasil ternaknya kerap moncer di lapangan, seperti lovebird Encun yang baru saja menjuarai Latpres Jagger Enterprise di Jakarta (14/5).

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

RH Didi Rosidi, pemilik CBF, mulai beternak lovebird sekitar empat tahun lalu. Induk yang digunakan saat itu adalah lovebird-lovebird koleksinya yang pernah moncer di arena lomba. Salah satunya adalah Monic.

H Didi Rosidi di kandang ternak lovebird model koloni.

Dengan sendirinya, setiap induk memiliki kualitas ngekek cukup panjang. Tidak mengherankan kalau anakan lovebird hasil breeding CBF punya kualitas tersendiri ketika dewasa dan berlaga di lapangan. Hal ini terlihat dari prestasi lovebird Encun, Yuyun, dan Cicih selama ini.

Lovebird Encun, jawara di Jagger Enterprise Jakarta (14/5).

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

“Dengan menggunakan materi pasangan induk yang memiliki kualitas suara bagus, diharapkan setiap anakannya juga punya kualitas bagus,” jelas Om Didi ketika ditemui di kediamannya, sekaligus lokasi penangkarannya, daerah Ciputat, Tangerang Selatan.

Lovebird Yuyun, produksi CBF, sering moncer di lapangan.

Untuk mengembangbiakkan lovebird kualitas suara, Om Didi cukup menggunakan kandang aviary / koloni, dengan ukuran panjang 3 meter, lebar 2,5 meter dan tinggi 2,5 meter. Kandang tersebut bisa diisi 18 pasangan lovebird yang sebelumnya sudah diseleksi kualitas ngekeknya.

Lovebird Cicih, amunisi lain produksi CBF.

Breeding lovebird di kandang aviary lebih mudah. Kita tinggal memasukkan calon induk jantan dan betina, yang sudah diseleksi dan sudah punya prestasi di lapangan. Nanti mereka akan menemukan jodohnya sendiri,” tuturnya.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Yang penting, kelengkapan bahan dan media untuk perkembangbiakan lovebird sudah disediakan di dalam kandang tersebut, misalnya gelodok atau tempat bersarang dan bak pakan. Bak pakan berisi campuran milet, juwarut, canary seed, jagung, serta pakan bijian lainnya.

Koleksi trofi induk dan anakan lovebird produk CBF.

Induk betina yang mau berproduksi akan segera menyusun sarang. Tak lama kemudian, induk betina akan bertelur sebanyak 4-5 butir. Setelah menetas, anakan diasuh induknya sampai umur 2 minggu.

“Selanjutnya, anakan kita panen, dipelihara dalam kandang terpisah, diloloh setiap saat, sampai bisa makan sendiri,” jelas Om Didi.

Kandang khusus pembesaran terbuat dari kotak kayu, yang di dalamnya dilapisi serbuk  kayu halus, sebagai alas agar anakan lovebird merasa hangat dan nyaman. Pelolohan ini dilakukan sampai umur 1 bulan, ketika anakan sudah bisa makan sendiri.

Anakan lovebird pascapanen.

Diperlukan kesabaran tersendiri untuk meloloh anakan lovebird. Sebab, kita harus melolohnya setiap 2-3 jam sekali. Bahan lolohan berupa adonan bubur sereal yang biasa dikonsumsi bayi, atau bisa juga menggunakan pakan khusus anakan burung paruh bengkok yang banyak dijual di pasaran.

Pelolohan bisa dilakukan dengan menggunakan pipet, tetapi lebih praktis juga disuapi menggunakan sendok makan.

Setelah berumur 1 bulan, anakan lovebird ini mulai dimaster dengan suara isian, baik menggunakan lovebird yang memiliki suara ngekek panjang maupun dengan didekatkan burung tengkek buto serta kenari.

Apabila sudah berumur 2 bulan, anakan lovebird akan dipisahkan ditempatkan di kandang umbaran, agar pertumbuhannya lebih cepat dan sehat. Sekitar umur 3-4 bulan, burung dimasukkan ke sangkar  masing-masing, sambil dipantau durasi ngekeknya.

Harga anakan lovebird produksi CBF relatif terjangkau, mulai dari Rp 750.000 hingga Rp 2 juta / ekor, tergantung kualitas suaranya. Sebagian besar pembelinya merupakan pemain lomba. “Alhamdulillah, di tangan mereka, sudah banyak yang moncer di lapangan,” jelasnya. (d’one)

Om Didi (kanan) bersama lovebird hasil ternaknya.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.