Perkici buru merupakan burung endemik di Pulau Buru, Maluku. Spesies ini juga dikenal sebagai jenis parrot paling langka dan misterius. Pasalnya, sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1921, keberadaannya sampai sekarang bisa dibilang “antara ada dan tiada”.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Burung utu papua atau perkici buru yang langka dan misterius.

Masyarakat setempat menyebut perkici buru dengan nama lokal utu papua. Adapun nama internasionalnya blue-fronted lorikeet (Charmosyna taxopei), mengacu pada warna kebiruan pada mahkota bagian depan.

Wilayah persebaran burung ini sangat terbatas, yakni di Pulau Buru. Panjang tubuhnya sekitar 16 cm, berwarna hijau, dengan tubuh bawah lebih kekuningan. Mahkota depan biru, dagu dan tenggorokan hijau-kuning, sedangkan pangkal ekor bagian bawah berwarna merah.

Burung ini dikenal sebagai spesies paling langka yang pernah ada di Indonesia. Perkici buru pertama kali ditemukan Lambertus Johannes Toxopeus, ahli entomologi kelahiran Tuban, tahun 1921. Dia seorang guru dengan segudang pengalaman di lapangan, dan pernah terlibat dalam ekspedisi Archbold Expeditioan di Papua Nugini (tahun 1938).

Toxopeus juga menjadi orang pertama yang menemukan dan mengambil spesimen perkici buru yang keberadaannya masih misterius sampai sekarang. Selama bertahun-tahun, populasi burung ini belum bisa dipastikan, meski beberapa suvei telah diupayakan. Besar kemungkinan, populasinya sangat kecil dan terus berkurang akibat habitat yang makin sempit.

Dalam catatan Taxopeus, burung ini memiliki wilayah persebaran sangat terbatas. Bahkan kemungkinan hanya bisa ditemukan di tepi sungai sebelah darat Dataran Tinggi Rana. Sebagian masyarakat yang bermukim di bagian lain dari Pulau Buru bahkan mengaku tidak mengenali burung ini.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Pencarian intensif terhadap spesies burung ini pernah dilakukan tim dari BirdLife Internasional, melalui Yayasan Burung Indonesia (tahun 1995) di Gunung Kalapat Mada dan Danau Rana.

Selanjutnya, pada 1996, tim tersebut mengembangkan pencarian hingga ke bagian lain Pulau Buru dan Teluk Kayeli. Informasi yang diperoleh saat itu hanya berasal dari laporan dua pemburu. Keduanya mengaku telah menangkap burung yang dimaksud, untuk dijadikan sebagai santapan saat berada di sekitar Danau Rana.

Selain pemandangan yang indah, Danau Rana “menyimpan” perkici buru yang misterius.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Dulu mudah dijumpai, kini menjadi misteri

Masyarakat yang tinggal di tepi Danau Rana sangat mengenali jenis burung ini. Bahkan menurut mereka, di era 1990-an, burung utu papua mudah dijumpai dan kerap terlihat memakan nektar dan serbuk sari di pohon-pohon berbunga.

Dilaporkan juga, perkici buru saat itu kerap terlihat di wilayah pegunungan yang berada di antara desa mereka dan Danau Rana, tidak jauh dari tempat Taxopeus menemukan spesies ini untuk pertama kalinya.

Hingga kini, laporan pengamatan dan perjumpaan dengan burung perkici buru sangat minim. Hal ini menyebabkan para ahli sulit memperkirakan populasinya secara tepat.

Namun dari informasi yang dilansir Badan Konservasi Dunia (IUCN), mereka telah mendapatkan gambar dua individu perkici buru pada November 2014. Ini menjadi bukti penguat bahwa poulasi perkici buru memang sangat kecil.

Sempitnya habitat dan wilayah persebaran perkici buru membuat IUCN menetapkannya dalam status Kritis (Critically Endangered – CR) bersama dengan 27 spesies burung lain yang ada di Indonesia.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.