Pleci wangi wangi: Burung kacamata berparuh kuning dari Kepulauan Wakatobi

Sebagian sobat plecimania di Indonesia mungkin masih merasa asing mendengar nama burung pleci wangi wangi atau wangi wangi white-eye.  Burung ini baru  ditemukan pada tahun 2003 di Pulau Wangi Wangi, Sulawesi Tenggara. Wangi Wangi adalah satu pulau yang ada di Kepulauan Wakatobi. Sampai sekarang burung ini belum memiliki nama spesies, sehingga para ornitholog untuk sementara menamakannya Zosterops sp. nov. Posturnya lebih besar daripada semua jenis pleci lainnya, termasuk kecial lombok atau pleci kuning lombok (Zosterops chloris maxi) yang dapat dikatakan memiliki postur paling besar.

Pleci wangi (kanan) dan pleci dada kuning

Pleci wangi wangi (kanan) dan pleci dada kuning

Paruhnya juga lebih besar, dan berwarna kuning, bukan hitam atau abu-abu seperti yang dimiliki spesies pleci lainnya. Karena beberapa perbedaan itu, pleci wangi wangi diyakini merupakan spesies baru, atau setidaknya subspesies atau ras pertama dari kacamata sulawesi atau pale-bellied white eye (Zosterops consobrinorum).

Hal ini dikemukakan sang  penemu pleci wangi wangi, Nicola Marples, dosen zoologi di Trinity College, Dublin, Irlandia. “Boleh jadi pula, pleci wangi wangi adalah burung pelarian dari daerah lainnya, yang kemudian menetap di Pulau Wangi Wangi. Namun kemungkinan tersebut sangat kecil, karena burung kacamata yang memiliki ciri-ciri seperti ini tidak  ditemukan di daerah lain,” kata Marples.

Marples menemukan burung pleci wangi wangi pada musik kemarau 2003 di Pulau Wangi Wangi. Kedatangannya ke Indonesia tak sendirian, karena ia tergabung dalam tim ekspedisi yang dipimpin David Kelly, ahli zoologi dari Trinity College.

Ekspedisi ini juga menemukan beberapa jenis burung yang di tempat lain sudah ada, namun posturnya selalu lebih besar. Fakta inilah yang masih akan terus digali, apa yang menyebabkan spesies burung di Kepulauan Wakatobi memiliki postur lebih besar dari spesies burung yang hampir sama tetapi habitatnya di daerah lain di Indonesia.

Sebelumnya, tim ekspedisi ini pernah mengunjungi Pulau Buton dan Kabaena pada tahun 1999. Saat itu, mereka menemukan subspesies baru dari red backed thrush (Zoothera erythronota kabaena).

Perbedaan mencolok antara pleci mataputih yang ditemukan di sekitar Wakatobi dengan daerah lainnya. dalam gambar Pleci Wangi Wangi (sebelah Kiri ) dengan Pleci dari lombok

Perbandingan postur dan paruh antara pleci wangi wangi (kiri) dan pleci lombok

Garis Wallacea, surga burung-burung baru

Sulawesi selama ini dikenal sebagai salah satu tujuan penelitian ilmiah yang penting bagi para ahli burung dan satwa lainnya dari berbagai negara. Sebab pulau ini merupakan bagian dari zona zoogeografis yang dikenal sebagai Garis Wallacea, sebuah garis imajiner yang menandai batas antara fauna oriental (Asia) dan Australasia.

Garis batas Wallacea

Garis Wallacea

Batas imajiner ini ditarik mulai dari perbatasan Indonesia-Filipina, kemudian Teluk Sulawesi yang memisahkan Kalimantan dan Sulawesi, kemudian ke bawah tepat di sebelah timur Pulau Bali. Jadi semua daerah di NTB dan NTT masih termasuk dalam Garis Wallacea, sedangkan Bali, Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan benua Asia merupakan kawasan oriental.

Disebut Garis Wallacea, karena yang membuat garis imajiner untuk pemetaan zoogeografis adalah Alfred Wallace, sobat Charles Darwin yang terkenal dengan Teori Evolusi-nya. Daerah-daerah yang berada dalam Garis Wallacea dikenal memiliki syarat dan kondisi untuk kelangsungan hidup burung-burung liar. Di wilayah ini terdapat setidaknya 250 spesies burung endemik, alias tak dijumpai di daerah lain.

Semoga bermanfaat.

Salam sukses, Salam dari Om Kicau.

diskusi di siniAda pertanyaan atau pesan, sobat? Mohon sampaikan di sini (klik saja).

Navigasi Utama:

About these ads

There are 3 comments

Komentar ditutup.