TEKNOLOGI INSEMINASI BUATAN PADA AYAM BURAS

I. PENDAHULAN

1.1. Latar Belakang

Ayam buras atau ayam kampung termasuk ayam Kedu banyak dipelihara oleh peternak dan merupakan sumber pendapatan keluarga di pedesaan. Salah satu permasalahan yang menonjol dalam pemeliharaan ayam buras adalah pengadaan bibit, baik ditinjau dari kuantitas maupun kualitasnya. Kendala dalam pengadaan bibit ini sangat dirasakan terutama oleh peternak ayam buras yang telah menerapkan sistem pemeliharaan secara intensif adalah pada saat akan menambah populasi induk atau menggantikan induk yang sudah tidak produktif lagi, seperti hasil pengamatan penulis pada kelompok ternak ayam buras “Karya Makmur”, Desa Cibiyuk Kabupaten Pemalang; “Gemah Ripah”, Desa Soropadan Kabupaten Temanggung dan kelompok tani ternak ayam buras di Desa Tegalrejo Dabupaten Magelang (Muryanto, 1993). Demikian juga dengan laporan hasil-hasil penelitian ayam buras di Sub Balai Penelitian Ternak Klepu-Ungaran, disimpulkan bahwa pemeliharaan ayam buras saat ini dihadapkan pada tantangan pengadaan bibit.

Maaf menyela: Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis... Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Upaya untuk mengatasi kendala pengadaan bibit baik secara kuantitas maupun kualitas adalah dengan memperbaiki/menerapkan sistem perkawinan dan program seleksi yang baik (Warwick and Legate, 1979). Saat ini ayam buras telah banyak diusahakan oleh peternak dengan sistem intensif, yang ditandai antara lain dengan penggunaan kandang batere. Salah satu metode perkawinan yang mempunyai prospek untuk dikembangkan pada pemeliharaan ayam buras dalam kandang batere adalah dengan menerapkan teknologi inseminasi buatan (IB). Dengan penerapan teknologi IB maka akan diperoleh peningkatan produksi telur tetas yang berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai produksi tinggi, sehingga apabila telur tersebut ditetaskan maka akan diproduksi anak dalam jumlah banyak dan kualitasnya baik. Manfaat lain dari penerapan IB adalah meningkatkan efisiensi penggunaan pejantan, memungkinkan dilaksanakan persilangan serta dapat dijadikan sebagai sarana peningkatan mutu genetik.

Penerapan teknologi IB bertujuan untuk meningkatkan produksi telur tetas (telur fertil) yang berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai produksi tinggi, sehingga apabila telur tersebut ditetaskan maka akan diproduksi anak-anak dalam jumlah banyak dan kualitasnya baik. Manfaat lain dari penerapan IB adalah :

Meningkatkan effisiensi penggunaan pejantan.

Meningkatkan produksi telur tetas.

Memungkinkan dilaksanakan persilangan.

Dapat dijadikan sebagai sarana meningkatkan mutu genetik.

1.2. Kata Kunci dan Definisi

a. Kata Kunci

Inseminasi buatan, ayam Buras

b. Definisi

Dalam aplikasi teknologi IB dikenal beberapa istilah yang perlu untuk dipahami yaitu :

Fertilitas adalah persentase telur yang tertunasi (fertil) dari jumlah telur yang ditetaskan.

Jumlah telur fertil

Fertilitas = x 100%

Jumlah telur yang ditetaskan

Kematian embrio adalah persentase jumlah telur yang embrionya mati dari jumlah telur fertil. Embrio adalah benih dalam telur yang telah dibuahi.

Jumlah embrio mati

Kematian embrio = x 100%

Jumlah telur fertil

Daya tetas adalah persentase jumlah telur yang menetas dibagi jumlah telur fertil.

Jumlah telur menetas

Daya tetas = x 100%

Jumlah telur fertil

II. lokasi pengkajian dan daerah rekomendasi

2.1. Lokasi Pengkajian

Pengkajian teknologi IB dilakukan sebanyak 3 kali penelitia di 3 lokasi yang berbeda yaitu :

Penelitian pertama dilakukan pada kelompok tani ternak ayam Buras “Gemah Ripah” Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung.

Penelitian kedua di unit tanaman ternak ayam Kedu Maron, Kabupaten Temanggung.

Penelitian ketiga dilakukan pada kelompok tani ternak ayam Buras “Sumber Makmur” Desa sumingkir, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga.

2.2. Daerah Rekomendasi

Daerah rekomendasi teknologi hasil pengkajian ini pada dasarnya adalah tidak terbatas pada spesifik lokasi tertentu karena ayam Buras mampu beradaptasi pada berbagai agroekosistem wilayah.

III. LANGKAH OPERASIONAL penerapan teknologi

Teknologi IB ini dikaji menggunakan materi induk sebanyak 550 ekor dan pejantan 15 ekor yang dilaksanakan melalui tiga tahap penelitian. Penelitian pertama dilakukan pada Tahun Anggaran 1995/1996 dengan menggunakan materi induk ayam buras (kampung) sebanyak 200 ekor dan 5 ekor pejantan, dari hasil IB didapat telur tetas sejumlah 4.321 butir yang dialokasikan dalam 19 angkatan penetasan. Penelitian kedua dilakukan pada Tahun Anggaran 1995/1996 menggunakan materi induk ayam Kedu sejumlah 150 ekor dan 5 ekor pejantan, dari hasil IB didapat telur tetas sejumlah 1.200 butir yang dialokasikan dalam 6 angkatan penetasan. Penelitian ketiga dilakukan pada Tahun Anggaran 1997/1998 menggunakan materi induk ayam buras 200 ekor dengan 5 ekor pejantan, dari hasil IB didapat telur tetas sejumlah 645 butir yang dialokasikan dalam 4 angkatan penetasan. Induk yang digunakan merupakan induk terpilih yang mempunyai produksi rata-rata 40%.

Telur yang dihasilkan diseleksi berdasarkan bobot dan bentuk fisik (normal dan tidak cacat). Penetasan dilakukan dengan menggunakan mesin tetas kapasitas 100 butir/mesin, sedangkan pejantan yang digunakan adalah pejantan yang berumur 1,5 tahun yang sudah terlatih untuk diambil spermanya. Sistem perkandangan yang digunakan adalah kandang batere untuk induk dan untuk pejantan dipelihara pada kandang individu. Pakan yang diberikan merupakan campuran antara konsentrat petelur, jagung giling dan katul dengan perbandingan 1 : 2 : 5 ditambah dengan mineral dan vitamin 2% per kg dari pakan campuran (Tabel 1). Konsumsi pakan induk adalah 0,1 kg/ekor/hari, sedangkan untuk pejantan 0,11 kg/ekor/hari. Pakan tersebut diberikan 2 kali/hari yakni pada pagi dan siang hari.

Tabel 1. Komposisi dan kandungan nutrisi pakan ayam buras

UraianKomposisi/Kandungan Nutrisi (%)
Konsentrat12.5
Jagung25
Bekatul62.5
Nutrisi :
Kadar air13.38
Protein kasar13.10
Serat kasar9.41
Lemak5.86
Karbohydrat (kkal/kg)2980.86
Abu9.82

Keterangan : Hasil analisa Balai Penelitian dan Pengembangan Industri, Semarang

Peralatan inseminasi buatan yang digunakan berupa : alat suntik (spuit), slang, tabung penampung sperma, tabung pengencer sperma, pengencer sperma (NaCl fisiologis 0,9%) dan kain lap (Ilustrasi 1). Alat-alat tersebut tersedia di apotik-apotik dan harganya relatif murah. . Umur pemakaian dari alat-alat tersebut dapat digunakan selama 5 tahun.

Sebelum teknologi IB ini direkomendasikan, telah melalui 3 periode pengkajian pada 3 lokasi yang berbeda yakni pada: 1) kelompok tani ternak ayam buras “Gemah Ripah” Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung; 2) Unit Taman Ternak ayam Kedu Maron, Kabupaten Temanggung, dan 3) kelompok tani ternak ayam buras “Sumber Makmur” Desa Sumingkir, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga. Namun demikian mengingat ayam buras dalam pengembangannya mampu beradaptasi pada berbagai agroekosistem wilayah, maka penerapan teknologi B pada ayam buras ini tidak terbatas pada spesifik lokasi tertentu.

Metode yang digunakan dalam penerapan teknologi IB adalah metode inseminasi secara langsung, yaitu sperma yang diambil dari pejantan langsung diinseminasikan ke induk (sperma tidak disimpan).Tahapan pelaksanaan IB tersebut adalah sebagai berikut :

3.1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini dipersiapkan yang digunakan, ternak induk dan pejantan. Sebelum alat yang digunakan harus dibersihkan dahulu dengan air mendidih. Slang yang tersedia dimasukkan ke ujung alat suntik (tempat jarum), hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam pengambilan sperma. Induk yang akan diinseminasi merupakan induk yang sehat, mempunyai produksi tinggi, induk tersebut harus sedang berproduksi dan pemeliharaan induk pada kandang batere/individu (Ilustrasi 2). Pejantan sebagai penghasil sperma harus sehat, berumur 1,5 – 3 tahun, pejantan tersebut dipelihara pada kandang individu dan dilatih terlebih dahulu untuk diambil spermanya. Cara melatih pejantan: elus secara bersamaan bagian punggung dari bawah leher ke arah ekor dan dari bawah anus ke arah ekor (Ilustrasi 3). Pengelusan dilakukan 5 – 10 kali. Biasanya setelah 7 hari pejantan sudah terlatih. Tanda pejantan yang sudah terlatih adalah apabila dilakukan pengelusan, maka ekornya langsung terangkat.

3.2. Pengambilan sperma

Disiapkan pejantan yang akan diambil spermanya, pengambilan sperma agar menghasilkan kualitas yang baik mulai dilakukan pada sore hari jam 15.00 (Nasroedin et al., 1993). Pengambilan sperma dilakukan oleh 2 orang, satu memegang pejantan dan lainnya bertugas mengambil sperma (Ilustrasi 4). Bersihkan kotoran pada anus dan sekitarnya dengan kain lap (bulu sekitar anus dibersihkan/dipotong). Rangsang pejantan sesuai dengan penjelasan sebelumnya. Pengambilan sperma dilakukan dengan menekan dari atas pangkal ekor dengan tangan kanan, sedang tangan kiri memegang tabung penampung sperma, begitu sperma keluar langsung ditampung dalam tabung yang sudah disiapkan (Ilustrasi 5). Encerkan sperma dengan NaCl fisiologis 0,9%, dengan derajat pengenceran 1 : 6. Cara pengenceran : sedot sperma dari tabung penampung, setelah diketahui banyaknya sperma, masukkan sperma ke tabung pengencer secara perlahan-lahan melalui dinding tabung. Ambil NaCl sesuai dengan derajat pengenceran, masukkan kedalam tabung pengencer kemudian goyang-goyangkan tabung sampai sperma dan NaCl tercampur (Ilustrasi 6). Umur sperma yang telah diencerkan + 30 menit. Hindarkan sperma dari sinar matahari secara langsung. Sedot sperma yang telah diencerkan dengan spuit dan sperma siap diinseminasikan. Seekor pejantan dapat diambil spermanya 3 – 5 kali per minggu.

3.3. Pelaksanaan IB

Disiapkan induk yang akan diinseminasikan dan alat suntik yang sudah diisi sperma yang diencerkan. Bersihkan kotoran di anus dan sekitarnya, bulu di sekitar anus dibersihkan (dipotong). Inseminasi dilakukan 2 orang, dimana 1 orang memegang ayam dan satu orang melaksanakan inseminasi (Ilustrasi 7). Pengeluaran alat reproduksi/ saluran telur induk: tekan bagian tubuh dibawah anus dengan tangan kiri ke arah dada sampai keluar saluran/lubang telurnya yaitu sebelah kiri arah depan dan saluran kotoran sebelah kanan (Ilustrasi 8), sementara tangan kanan memegang alat suntik yang sudah berisi sperma. Masukkan alat suntik (slangnya) secara perlahan kedalam saluran telur sedalam + 2 cm. kemudian dilakukan penyuntikan/inseminasi, bersamaan penyuntikan tersebut penekanan bagian bawah anus dilepaskan (Ilustrasi 9). Tiap inseminasi membutuhkan 0,1 – 0,2 ml sperma yang sudah diencerkan dan inseminasi diulang 3 hari dari inseminasi sebelumnya.

3.4. Pengambilan telur

Pengambilan telur dilakukan pada hari ke 2 setelah IB, karena telur yang pertama kemungkinan sudah lengkap atau sudah mempunyai kerabang, sehingga tidak dapat dibuahi. Penyimpanan telur maksimal 10 hari. Cara meletakkan telur, bagian tumpul diatas dan telur siap ditetaskan (Ilustrasi 10 dan 11).

iV. HASIL pengkajian

4.1. Keragaan Hasil

Hasil keragaan teknologi yang utama pada pengkajian teknologi IB ditunjukkan dengan tingginya angka fertilitas telur yang dapat menyamai atau lebih tinggi dari fertilitas telur hasil kawin alam. Pada Tabel 2 ditunjukkan bahwa rata-rata fertilitas telur dari penelitian 1 sampai 3 adalah 73,5%. Sedangkan fertilitas telur hasil kawin alam yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan IB rata-ratanya adalah 64,4%. Dari hasil tersebut membuktikan bahwa teknologi IB menghasilkan fertilitas telur lebih tinggi 9,1% dibandingkan pada kawin alam. Dari pengamatan selama proses penetasan menunjukkan bahwa kematian embrio telur tetas hasil IB sebesar 30,8%, sedangkan pada telur tetas hasil kawin alam lebih besar yakni 42,2%. Rata-rata daya tetas dari telur hasil IB sedikit lebih tinggi bila dibandingkan pada kawin alam, yakni 69,2% vs 62,8%. Berdasar hasil keragaan tersebut dapat disimpulkan bahwa teknologi IB mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan dalam upaya meningkatkan produksi telur tetas sekaligus sebagai sarana memenuhi kebutuhan bibit ayam buras.

Tujuan utama usaha ayam buras pada kelompok-kelompok tani ternak ayam buras yang menerapkan pemeliharaan sistem semi intensif/intensif pada umumnya adalah memproduksi telur konsumsi. Namun dengan introduksi teknologi IB ternyata dapat membuka peluang usaha yaitu memproduksi telur tetas, seperti yang dilakukan kelompok ternak “Sumber Makmur” Desa Sumingkir, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga yang telah memasarkan telur hasil IB kepada kelompok ternak ayam buras lainnya. Berdasarkan laporan dari kelompok yang membeli telur tetas, ternyata fertilitas telurnya cukup baik yaitu 80%. Jumlah telur tetas yang sudah dipasarkan oleh kelompok ternak “Sumber Makmur” tersebut selama 1 tahun mencapai 900 butir dengan harga antara Rp. 450,-/butir, atau lebih tinggi Rp. 100,-/butir dibandingkan dengan harga telur konsumsi.

4.2. Analisis Finansial

Analisis finansial yang dilakukan pada penerapan teknologi IB adalah analisa input-output usaha, dan sebagai perbandingan disajikan analisa finansial pada pemeliharaan untuk tujuan produksi telur konsumsi. Analisis finasial tersebut diperhitungkan pada skala pemeliharaan 100 ekor induk ayam buras (Tabel 3). Terdapat perbedaan jenis input pada analisa finansial jenis usaha produksi telur tetas (penerapan IB) dengan produksi telur konsumsi, yakni dengan diperhitungkannya biaya penyusutan peralatan IB pada usaha produksi telur tetas. Perbedaan pada output usaha adalah nilai jual telur tetas sebesar Rp 450,-/butir, sedangkan telur konsumsi Rp. 350,-/butir. Telur infertil (tidak tertunasi) yang dapat diketahui setelah proses penetasan berjalan 5-7 hari, masih mempunyai nilai yakni seharga telur konsumsi. Berdasarkan analisis tersebut ditunjukkan bahwa keuntungan per bulan dengan penerapan IB lebih tinggi 43,4% dibandingkan dengan usaha pemeliharaan untuk tujuan produksi telur konsumsi (Rp. 203.933 vs Rp. 142.233). Tingginya keuntungan dari penerapan teknologi IB disebabkan karena harga telur tetas lebih tinggi (Rp. 100) dibandingkan dengan harga telur konsumsi, tambahan biaya produksi dan tenaga kerja yang dikeluarkan dari penerapan teknologi IB relatif sedikit, serta telur infertil dari hasil IB dapat dijual sebagai telur konsumsi.

Inseminasi Pada Ayam Buras

Tanya:
Saya tertarik dengan peternakan ayam buras dan mulai mengembangkannya . Sayangnya hasilnya tidak begitu bagus. Karena itu saya ingin mengembangkannya dengan cara inseminasi buatan dan penetasan dengan mesin tetas. Bagaimana langkah-langkah inseminasi buatan, bahannya apa saja, dan kalau ada mohon klipingnya dikirimkan kepada saya.Bagaimana memilih telur yang baik untuk ditetaskan dan bagaimana menentukan telur jenis jantan dan betina. Bagaimana membuat rangkaian pengatur suhu pada mesin tetas. Terima kasih.
Dono Sugiarto,
Jl Cipinang Raya No.640, Majalengka 45472.

Jawab:
Untuk melakukan inseminasi buatan pada ayam buras diperlukan bahan berupa ayam jantan umur 12-30 bulan, cairan NaCl 0,9% atau bisa juga Ringer’s infuse. Ayam jantan itu diperlukan untuk diambil spermanya. Sedangkan alat-alat yang diperlukan ialah penampung sperma (durham), kapas, tabung reaksi, alat suntik 0,5 cc.

Selanjutnya ialah mengambil sperma ayam jantan lalu diproses dengan bahan-bahan didalam tabung reaksi dan penyuntikan sperma pada ayam betina. Pengambilan sperma jantan dilakukan dengan cara mengurut bagian punggungnya mulai dari pangkal leher. Saat pengurutan sampai ke pangkal ekor dilakukan sedikit tekanan lebih kuat agar keluar urinenya dan dibersihkan dari duburnya itu.

Pengurutan di lakukan 3-5 kali dan setelah urine keluar maka sperma akan keluar juga menyusul lalu ditampung dengan tabung durham. Jangan sampai bercampur antara urine dan sperma karena sperma akan mati, urine dibersihkan dengan kapas sampai kering demikian juga sebelum pengambilan sperma, dubur ayam harus bersih dari kotoran.

Pengambilan sperma dapat dilakukan 2-3 kali dengan jarak waktu 15 menit. Tiap pejantan bisa memberikan 0,25 cc sperma. Daya simpan sperma ini dikulkas dengan suhu 7øC bisa 4 hari lamanya tapi pada ruangan biasa bisa disimpan hanya 30 menit, spermanya kira-kira 1,25 cc dipindahkan ketabung reaksi lalu dicampur dengan bahan pengencer berupa NaCl 0,9% ditambah kuning telur dengan perbandingan 4:1 sebanyak 4,17 ml, digoyang perlahan sampai merata lalu disimpan dalam termos sebelum digunakan. Daya simpan hanya 4 hari pada suku 25øC. Selanjutnya disuntik pada betina dengan cara mengambil cairan tadi dengan jarum suntik (spuit) sebanyak 1 ml, lalu perut bagian bawah ayam betina ditekan sehingga kloaka akan keluar dan jarum spuit dimasukkan sedalam 3 cm setelah tekanan dihilangkan. Selanjutnya sperma disuntikan. Cara ini membuat ayam jadi stres.

Cara lain ialah dengan memasukkan jari kelingking kedalam dubur sedalam 6-8 cm lalu spuit dimasukkan melalui bagian atas jari kelingking dan sperma disemprotkan dibagian ujung kelingking yaitu bagian uterus setelah ujung jari mulai ditarik perlahan. Cara ini dapat mencegah keluarnya sperma/semen kembali, kemudian ayam dikandangkan. Penyuntikan ini dilakukan lagi tiap 3-4 hari. Pengambilan telur dimulai pada hari kedua sejak dikeluarkan karena telur hari pertama tidak digunakan.

Memilih telur ialah yang seragam, bentuknya oval, licin, bersih tidak bernoda, atau retak, ruang udara dalam telur (diteropong ke arah lampu/matahari) tidak terlalu lebar dan terletak diujung tunpul telur itu. Soal telur jantan dan betina belum diperoleh kepastian karena belum tentu telur yang ovalitu jantan dan yang agak bulat itu betina.

Karena rumit, nanti dibaca klipingnya saja atau buku cara membuat mesin tetas telur karangan Farry B Paimin, terbitan Penebar Swadaya.

Ini adalah tulisan Taufiq Rusdi MSc.

Semoga bermanfaat untuk Anda.

Salam,

Duto Solo

Penting:

  1. Burung Anda kurang joss dan mudah gembos? Baca dulu yang ini.
  2. Tanya Om Kicau? Klik saja Curhat.
  3. Cek artikel menarik lainnya di bawah ini:



ANDA PERLU DESIGN BROSUR DAN PIAGAM LOMBA? KLIK GAMBAR DI BAWAH INI YA…

JASA DESAIN BROSUR DAN PIAGAM LOMBA BURUNG

BURUNG SEHAT BERANAK PINAK… CARANYA? PASTIKAN BIRD MINERAL DAN BIRD MATURE JADI PENDAMPING MEREKA.

Banyak penipu catut nama omkicau.com. Ingat saja sobat, Om Kicau tidak pernah berjualan burung secara online, melalui BB ataupun website lain.

PERACIKAN OBAT/SUPLEMEN BURUNG OM KICAU DI BAWAH PENGAWASAN DAN KONSULTASI DENGAN DRH HM HAYAT TAUFIK JUNAIDI.

30 Comments

  1. saya mau buka usaha ternak ayam kampung dgn menggunakan sistem IB, terus bagaimana caranya melatih pejantan agar mudah di ambil spermanya ? yang kedua melatihnya itu butuh berapa lama ? terima kasih.

  2. Bagus,,,akan saya coba…thank inspirasinya…!!
    mau dong pelatihannya…!!d daerah yang dekat tasikmalaya ada tak ya….??

  3. mungkin ada acara latihan singkaat mengenai ib akan lbih bagus sehingga kita akan dapat meningkatkan jumlah ayam secara besar-besaran,oh ya pak saya punya produk mesin tetas call saya 085230437283

  4. Setelah saya membaca tulisan mengenai inseminasi buatan pada ayam ada beberapa yang perlu sy sampaikan ( ini berdasarkan pengalaman sy dalam meng IB ayam):
    1. Semen ayam bila disimpan dalam temperatur ruangan (25oC) harus segera di inseminasikan sktr (30-45 menit, bukan tahan selama 4 hari.
    2. Hasil penelitian sy kuning telur baik untuk mencegah cold shock, tataoi tidak baik untuk pembuahan.
    3. Pengenceran yang baik yaitu komposisi antara sperma (semen) dan pengencer (1:1 hingga 1:4).
    4. Pengencer Ringer Laktat lebih baik hasilnya daripada NaCl fisiologis.
    5. Waktu inseminasi buatan yang terbaik yaitu ketika di saluran reproduksi betina tidak ada telur didalamnya. Bukan pagi, siang dan sore, memang sore itu kemungkinan besar ayam betina sudah bertelur jadi hasilnya IB sore lebih baik daripada pagi atau siang (tetapi intinya harus tidak ada telur didalam saluran reproduksi betina). Hasil penelitian saya fertilitas terbaik bila ayam betina diinseminasi sekitar 1-2 jam setelah ayam betina bertelur (oviposisi), (Waktunya bisa pagi siang dan sore). Informasi tambahan : fertilitas ayam petelur komersil (final stock) memiliki fertilitas yang lebih tinggi daripada fertilitas ayam kampung. Sehingga jarak antara IB satu dan selanjutnya bisa sekitar 7 hari dengan fertilitas diatas 80 persen (umur ayam betina petelur 24-40 bulan).

    Sementara itu dulu,(sharing dari saya), mudah-mudahan bermanfaat.

    Selanjutnya mohon maaf apabila ada yang kurang pas. Wass.

    Maaf sy baru buka dan baca tulisan ini yang semestinya sy tulis tahun yl.

  5. saya tlah melakukan IB slm 8thn, tp hasil yg d capai krg bgs
    bgmn ya crnya spy hsl memuaskan,
    apa krn penyimpanan telur yg terlalu lama ?
    apa krn pengaruh transportasi, krn jarak antara Hacher dgn gdng jauh
    trima ksh..

  6. Terima kasih saya bisa bergabung dengan Duta Solo saya pekerja di kementerian pertanian dan perikanan di bagian Perencanaan program peternakan Timor Leste

    • salam bertemu kembali berhubung karena masih ada kekurangan Ilmu untuk penelitian terhadap IB ayam buras oleh karena itu saya bergabung dengan
      duta solo untuk lebih tahu tentang IB ayam buras pada penelitian saya nanti
      saya pekerja di kementerian pertanian dan perikan dibagian perencanaan dan progaram peternakan Timor Leste

  7. setelah saya baca artikel di atas, saya sudah ada bayangan untuk praktek,tp belum tau persis caranya,karena tidak di sertai gambar.jd saya mohon ,gmana klo anda membuat video tutorialnya,sederhana saja asal lengkap mulai dari cara pegang ayam jantanya,sampai cara menyuntikkanya pada si betina,dan mengirimkan hasil video ke alamat saya,tentunya dengan biaya dan onkir menjadi tanggungan saya,saya rasa ini akan lebih mudah untuk di pahami, trims,,

  8. bagaimana jika IB diterapkan pada burung paruh bengkok(kakatua), karena saya tertarik untuk menangkarkan burung paruh bengkok…
    mohon jawabannya…
    untuk info selanjutnya mohon kirim ke email saya
    terimakasih

    • Bisa saja.
      Untuk mendapat jawaban via email, gabung saja ke agroburung.com dan bisa daftar untuk mendapatkan jawaban via email untuk setiap pertanyaan yang masuk ke web tersebut. Salam.

  9. ok boss terimakasih infonya semoga bermanfaat bagi kalangan peternak pemula dan harga unggas naik dan tdk disertai naiknya harga barang dan bahan lain terutama bbm.

  10. nek arek nggolek pitik nang pak samijo wae… omahe batikan,soropadan,pringsurat,temanggung.kui yo melu kelompok ayam buras gemah ripah…ok!!!

  11. Saya sudah tanya ke Dinas Pertanian/Peternakan Purbalingga. Mereka tidak tahu. Lalu saya lacak sendiri ke Desa Sumingkir, ternyata kelompok peternaknya sudah tidak ada atau mati. Jawaban sama juga diberikan Dinas Peternakan Banyumas. Mas, saya serius. Jadi bila Mas/Bapak mengetahui di Soropadan atau tempat lain ada kelompok peternak ayam kampung, mohon saya diberi tahu kontak personnya atau nomor telepon yang bersangkutan. Insya Allah saya akan ke sana bila memang masih aktif. Maturnuwun.

    Jawab:
    Setahu saya di Soropadan masih ada. Coba nanti saya carikan informasinya dulu Om.

  12. Saya sangat beruntung menemukan site dan artikel ini karena ia sangat terkait dengan masalah yang tengah saya hadapi. Saya berdomisili di Purwokerto. Saya ingin memulai ternak ayam kampung tetapi tidak cukup punya informasi seputar peternak ayam kampung (yang mungkin saya bisa sharing dengan mereka), penyedia DOC (di internet banyak iklan tentang ini, tapi setelah salah satu saya cek ternyata bukan peternak, tapi hanya pedangang DOC; saya ingin mendapat DOC langsung dari peternak untuk lebih menjamin kualitas DOC), pakan ayam kampung alternatif, perkandangan, perawatan, dan tentu saja tentang insemenasi buatan. Oleh karena itu saya akan berbahagia sekiranya Bapak mengetahui info alamat atau kontak person (nama dan no telpon) yang bisa saya hubungi, apa lagi seperti yang disinggung dalam artikel, lokasi objek penelitian berada tidak jauh dari tempat saya. Saya ingin menjalin kontak dengan kelompok peternak ayam buras: 1.Karya Makmur di Pemalang, 2.Gemah Ripah di Temanggung, 3.Kedu Maron di Temanggung, 4.Sumber Makmur di Purbalingga, 4.Kelompok peternak di Tegalrejo Magelang. Besar harapan saya untuk mendapat info tersebut. Demikian sedikit urun rembug ini saya sampaikan. Many tahnks.

    Saya, Amiradil, amx
    amiradil.amx@gmail.com
    08567226639

    Jawab:
    Kalau memang serius bisa main ke Temanggung atau Purbalingga yang dekat dengan domisili Om. Tentunya pas hari kerja dan langsung saja cari informasi mengenai alamat2 peternak setempat di Dinas Peternakan/Pertanian setempat. Lebih efektif ketimbang selalu cari-cari di internet. Di Temanggung, juga ada kelompok peternak lain di daerah Soropadan.
    Semoga membantu.

    • Bagus juga dipelajari dan diikuti….kalao boleh ikut pelatihan baik teori maupun prakteknya sekalian, kapan dimana dan berapa biaya nya (Materi + Praktek + Akomodasi + honor TUTOR ).
      Jika memang bisa silahkan kontak saya Subiyantoro 0274 7477453 _email torosingo@gmail.co.id
      Saya sangat mengharapkan adanya pelatihan ini.

Komentar ditutup.