Patokan dasar membeli burung jawara, antara catatan prestasi dan kondisi di lapangan

Kelemahan membeli burung berdasar track-record

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Cara mudah dan praktis membeli gaco adalah berpatokan pada track record-nya di lapangan. Namun cara ini selain punya kelebihan juga memiliki kelemahari. Kelemahan yang sering dialami pembeli saat take-over, grafik perfoma burung sedang berada di puncak tetapi akan segera menurun.

Buktinya, sering kali saat urung dipinang hanya tampil sekali dua kali langsung rontok bulu.

Maaf menyela, kalau burung Anda kondisi ngoss terus dan pengin jadi joss, gunakan TestoBirdBooster (TBB), produk spesial Om Kicau untuk menjadikan burung ngoss jadi joss...

Tdak sedikit juga burung dilepas pemilik lantaran sudah berumur. Di tangan pembeli yang berbeda ingkungan dan perawatan, burung yang berumur akan cepat merosot performanya. Logikanya, pemilik burung tidak nudah melepas gaconya jika iprediksi masih bertahan lama. Pasalnya, dari prestasinya, burung tersebut bisa mendatangkan uang.

Toh begitu, bagi kicau mania berduit yang memilih jalan cepat, biasanya berpatokan dari prestasi di lapangan dan membeli saat berada di posisi puncak. Tentu dengan risiko kocek yang dikeluarkan dipastikan lebih banyak.

Cara menantang dan penuh spekuIasi lebih banyak dipilih oleh para pemain yang cenderung spekulatif, tentu ada kebanggaan jika mampu memaksimalkan gaco yang dibeli. Seperti Mr. Baim, cara memilih gaco tidak berpegang pada prestasi semata yang dipastikan harganya tinggi.

Walaupun Mr. Baim masih punya kemampuan untuk membeli, tetapi ia justru lebih melihat prospek ke depan. Beberapa koleksinya yang pernah meroket ke tingkat nasional seperti anis merah Raja Langit dan murai batu Maharaja justru diambil ketika belum di puncak. Di tangannya dua, gaco ini akhirnya berkibar.

Prospek dalam pandangan Mr. Baim, pertama gaco ini punya kualitas yang masih tersembunyi. Misal, tidak tampil di puncak tetapi kualitasnya justru sangat istimewa, hanya lantaran kurang kerja sehingga berada di posisi bawah atau tidak dapat juara sama sekali.

Kedua, umur dan gaco tersebut. Jago yang track recordnya tercatat, umur akan lebih terukur. Tidãk sedikit anis merah atau murai batu yang bisa tampil lebih dari lima tahun. Namun semakin berumur kualitasnya akan cenderung menurun.

Ketika di Yogya ia sempat membeli murai yang hanya tampil di posisi 10 besar. Tetapi murai yang diberi nama Raja Sakti tersebut ketika diturunkan di Banyuwangi berhasil menjadi juara, nyeri.

“Umurnya masih muda dan masih bisa dimaksimalkan lagi. Di sinilah sebenarnya seni dan kebanggaannya bisa memoles burung prospek tampil di lapangan,” papar Mr. Baim seraya menambahkan modal nya mesti memahami betul suara burung berkualitas dan punya waktu untuk memantau gaco yang sedang bekerja di lapangan.

Santo Utoyo, dikenal sebagai pembeli burung-burung prospek di lapangan. Burung yang punya kualitas bagus tetapi tidak tampil maksimal di lapangan selalu menjadi incarannya. Sebut saja ketika ajang Kapolres Gianyar Cup 17 Juni lalu, Santo membeli anis merah dengan gaya doyong full kanan kiri senilai 25 juta.

Padahal burung tersebut sama sekali tidak masuk juara. Tetapi banyak penonton yang kagum melihat kerjanya yang super mewah. “Dari kualitasnya saya bisa mengukur harganya. Umurnya juga sangat muda karena baru pertama kali dibawa ke lapangan,” papar Santo Utoyo.

Banyak pemain di Bali yang sukses membeli gaco yang lebih memilih prospek. Seperti D’Yan Mengwi yang beberapa gaconya justru dibeli sebelum jadi bintang lapangan. Di antaranya T-Rex dan Predator. Dua gaco ini yang dibeli dengan harga relatif murah, kini seringkali berada di puncak kelas murai batu di Bali.

Anis merah dan murai termasuk salah satu burung yang kuat bertahan mesti sudah berumur. Selain itu, meski beberapa kali rontok bulu, kualitasnya tidak jauh bergeser. Berbeda dengan jenis burung lain. Sebut saja cendet, cucak ijo, atau kacer. Jenis burung ini sulit bisa bertahan lama terlebih agi ketika berpindah tangan.

Bahkan di tangan pemiliknya sendiri, seekor kacer yang sudah puluhan kali juara pertama, bisa tiba-tiba macet dan tidak bisa ditampilkan.

Sudah banyak kasus gaco cendet dan cucak ijo yang pamornya bersinar di tangan pemiliknya, namun ketika pindah perawat prestasinya langsung jebol. Terlebih lagi ketika sudah rontok bulu. Walaupun ada gaco yang bisa bertahan, itu hanya beberapa kasus.

Sub-sub artikel lain:

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis... Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Bedakan usia muda, matang atau tua

Usia prestasi kenari pendek

Murai batu bisa 10 tahun

Waspadai piagam bodong

Cara sukses Eko Cikande

Cara sukses ala Yogi SF Samarinda

Tips membeli murai batu Bonny N

Kembali ke ARTIKEL AWAL

Penting: Burung Anda kurang joss dan mudah gembos? Baca dulu yang ini.

BURUNG SEHAT BERANAK PINAK… CARANYA? PASTIKAN BIRD MINERAL DAN BIRD MATURE JADI PENDAMPING MEREKA.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

3 Comments

  1. Sya jga ikut dukung cara perawatan mr.eko cikande,,( bkan mslh tetangga ya om ) memang kenyataannya gacoan yg di rmh dia emang sdh berumur lumayan tua,,tpi dri segi utk erawatan yg setiap hri sya melihat memang bagus dan kualitas pakan terjamin,bkn tidak mungkin sprti krakatau,fambregas,edane,dll msih bsa di andalkan,tpi AK si “arjuna” itu kmna y,,smpai skrg ini mr.eko gk mau ksih tau,,gra2 dlu di prambanan tidak maksimal,hnya sekilas kabar kalo arjuna wktu itu sbnrnya lapar hingga dia mletik saat gantang,,,,

  2. saya garis bawahi om “maklum ini masuk burung kecil” apakah burung kecil semua usia prestasinya pendek. bagaimana dengan pleci yang sedang naik daun…???

Komentar ditutup.