Mutasi warna, metode sexing, dan deteksi penyakit pada burung palek atau cockatiel

Pada artikel terdahulu kita sudah membahas perilaku reproduksi burung cockatiel (Nymphicus hollandicus) atau buruk palek (falk), atau parkit australia. Kali ini akan dibahas beberapa mutasi warna pada cockatiel, cara membedakan jenis kelamin, dan beberapa gangguan kesehatan yang umum dijumpai pada burung ini. Dengan pembekalan ini, ditambah pembekalan yang dulu, semoga Anda makin tertarik untuk memelihara atau menangkar cockatiel, baik sebagai hobi maupun untuk menambah penghasilan.

Sebagian ornitholog atau ahli perburungan berpendapat, cockatiel lebih tepat dimasukkan dalam keluarga parkit, terutama melihat sayap dan ekornya yang panjang. Itu sebabnya, burung ini kerap disebut sebagai parkit australia. Ada juga yang cenderung mengelompokkannya sebagai keluarga burung kakatua, karena jambulnya mirip seperti jambul kakatua. Tak heran jika ada pula yang menyebut cockatiel sebagai kakatua mini.

Disebut parkit australia, karena burung ini memang berasal dari Australia. Karena penampilan fisiknya yang cantik, dan terutama kepandaiannya, parkit australia akhirnya berkembang luas ke berbagai negara, tidak terkecuali di Indonesia. Masyarakat  Inggris sudah mengenal parkit australia sejak tahun 1800-an. Adapun masyarakat Amerika Serikat mengenalnya pada tahun 1910, dan langsung popular hingga sekarang.

WARNA ABU-ABU ADALAH WARNA ALAMI DARI BURUNG COCKATIEL
ABU-ABU: WARNA ALAMI COCKATIEL SEBELUM MUNCUL MUTASI WARNA.
COCKATIEL HASIL MUTASI WARNA
BEBERAPA JENIS COCKATIEL HASIL MUTASI WARNA

Mutasi warna pada cockatiel

Di alam bebas, cockatiel sebenarnya berwarna abu-abu. Setelah mulai ditangkarkan, muncul warna-warna baru hasil mutasi warna melalui perkawinan silang. Sebagaimana lovebird, mutasi warna juga menghasilkan cockatiel albino, lutino, pearl, cinnamon, pied, dan sebagainya.

Maaf menyela: Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis... Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

  • Cinnamon
    Warna ini diyakini berasal dari Belgia, yang penangkar-penangkarnya dikenal jago dalam mutasi warna pada lovebird dan gould amadine. Cinnamon memiliki beberapa varian lagi, seperti pied cinnamon, pearl cinnamon, dan primrose pearl cinnamon.
  • Dominant silver
    Warna dominant silver atau warna keperakan dikembangbiakan di Inggris sekitar tahun 1979. Burung jantan memiliki warna lebih gelap, meski ada juga beberapa individu burung betina memiliki warna lebih gelap daripada betina pada umumnya.
  • Lutino
    Cockatiel lutino memiliki warna kekuningan. Kaki dan matanya merah. Ekornya juga lebih kekuningan dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya.
  • Albino
    Warna ini terjadi dari perkawinan pasangan yang berwarna lutino berwajah putih. Cockatiel albino tidak memiliki pigmen warna, sehingga wajahnya tidak memiliki warna sebagaimana jenis lainnya. Sedangkan perubahan mata albino menjadi merah dikembangbiakan di Jerman tahun 1960-an.
  • Pied
    Cockatiel ini bisa memiliki warna yang berbeda pada bulu yang sama. Sangat sulit membedakan jenis kelamin mereka dengan melihat warnanya. Karena itu, para penangkar hanya membedakannya dari suara yang dikeluarkan.
    Pied cockatiel ini dibagi menjadi beberapa kategori yaitu: a) pearl pied (warna akan terlihat pada kepala dan leher mereka yang lebih kekuningan), b) primrose pied (cockatiel dengan warna kekuningan), c) cinnamon pied (cockatiel dengan warna cinnamon), dan d) white-faced pied (cockatiel dengan wajah putih tanpa warna).
  • White-faced
    Sesuai dengan namanya, bagian wajah berwarna putih. Warna ini dikembangkan di Belanda sekitar tahun 1969 -1978, kemudian dibawa ke Jerman dan Inggris .
  • Pearl
    Warna ini dikembangkan di Jerman sekitar tahun 1967.

Metode sexing

Pada cockatiel, sexing atau membedakan jenis kelamin bisa dilakukan melalui beberapa metode berikut ini:

  1. Menguji sampel darah
    Metode ini bisa dibilang sangat akurat, tetapi berbiaya mahal. Kita tinggal mengambil sampel darah dari burung, atau bisa juga mencabut sehelai bulu yang masih muda, kemudian dibawa ke laboratorium atau klinik hewan.
  2. Tes DNA
    Tes DNA memiliki banyak keuntungan, dan tidak sebatas memeriksa jenis kelamin burung cockatiel saja. Melalui tes ini, kita juga dapat mengetahui kondisi kesehatan burung secara keseluruhan. Di negara maju, tes DNA untuk burung sudah lazim, dan kerap digunakan untuk pengecekan galur burung yang memiliki trah juara atau memiliki mutu genetik tertentu. Sayangnya, sepanjang sepengetahuan saya, belum ada laboratorium / klinik hewan di Indonesia yang memiliki layanan seperti ini.
  3. Tes bedah
    Metode ini bisa digunakan dan efektif, tapi berpotensi membuat burung stres karena memerlukan banyak penanganan dan anestesi. Selain itu, diperlukan peralatan khusus dan harus dilakukan dilakukan dokter hewan pengalaman. Metode ini juga tak hanya memeriksa jenis kelamin burung, tapi dokter hewan dapat memeriksa kesiapan burung sebelum ditangkarkan.
  4. Mengamati bulu
    Metode ini juga akurat untuk membedakan jenis kelamin cockatiel. Namun karena cockatiel akan berganti bulu sampai usia 6-8 bulan, metode ini baru bisa digunakan untuk burung dewasa saja. Metode ini makin akurat jika cockatiel masih memiliki warna asli, yaitu abu-abu. Sedangkan untuk warna mutasi, diperlukan keterampilan tersendiri.
    Untuk warna asli (abu-abu), bagian pertama yang harus diamati adalah wajah. Cockatiel jantan memiliki bulu kuning di wajah, dengan noktah merah agak besar di pipi. Pada betina, bulu wajah abu-abu, warna merah tidak begitu jelas.
    Bagian kedua yang diamati adalah ekornya. Cockatiel jantan memiliki ekor berwarna abu-abu gelap. Sedangkan ekor betina tidak murni abu-abu, karena terdapat strip-strip kuning.
  5. Mendengarkan suaranya
    Cockatiel jantan cenderung lebih berisik dan lebih banyak bersiul daripada betina, terlebih ketika birahi atau memasuki musim kawin.
  6. Memeriksa tulang supit
    Metoda ini hanya cocok untuk yang berpengalaman sebelumnya, yaitu meraba struktur tulang supit atau sering juga disebut capit udang. Tulang supit merupakan dua ruas tulang panggul yang sejajar, terletak di bawah kloaka, yang bisa dilihat dan diraba, serta dijumpai pada burung jantan maupun betina. Silakan diraba menggunakan 1-2 jari tangan (telunjuk dan jari tengah). Burung betina memiliki tulang supit yang lebih lebar dan lebih lentur daripada burung jantan.

Deteksi penyakit

Memelihara burung pada hakikatnya adalah sebuah tanggung jawab yang kita dijalankan dari berbagai sisi, mulai dari perawatan, pemberian pakan, hingga menjaga kebersihan. Keteledoran sering berdampak pada kesehatan burung. Bahkan ketika kita tidak teledor pun, terkadang penyakit datang tanpa diundang.

Dalam pemeliharaan maupun penangkaran burung cockatiel, ada beberapa gangguan kesehatan yang yang umum dijumpai. Melalui deteksi dini, semoga Anda bisa lebih cepat mengenali gangguan kesehatan tersebut, sekaligus memberikan solusi pengobatan, dan yang terpenting bisa mencegah sebelum penyakit itu datang.

Berikut ini beberapa gangguan kesehatan yang paling sering dijumpai pada cockatiel, disertai dengan apa yang mesti Anda lakukan :

  • Burung tidak aktif atau malas-malasan
    Burung cockatiel termasuk burung yang aktif dan lincah. Jika Anda melihat perubahan sikapnya, misalnya terlihat malas-malasan atau kurang aktif, segera amati apa masalahnya. Apakan berhubungan dengan lingkungan kandang, atau karena kondisi burungnya yang memang kurang sehat. Diperlukan tindakan lebih lanjut dalam mengatasi masalah ini, misalnya dengan memberikan obat-obatan sesuai dengan gejala yang dialamu, atau membawanya ke dokter hewan terdekat.
  • Bulu-bulu yang berantakan
    Cockatiel juga termasuk burung pesolek dan selalu merapikan bulu-bulu mereka. Jika anda melihat bulu-bulunya berantakan, itu menunjukan burung sedang dalam kondisi kurang sehat.
  • Bulu yang dikembangkan (mekar)
    Jika cockatiel sering mengembangkan bulu-bulunya, kemungkinan besar akibat perubahan suhu di dalam kandang. Misalnya dari panas ke dingin, atau terlalu dingin. Tetapi jika kondisi tersebut terjadi saat suhu normal, berarti burung memang dalam kondisi tidak sehat dan harus dibawa ke dokter hewan.
  • Kotoran (feces) terlalu encer
    Kondisi kesehatan seekor burung, apapun spesiesnya, sebenarnya terpancar dari kondisi kotoran atau feces. Maka, biasakan untuk selalu melihat kondisi kotoran burung yang dipelihara. Jika kotoran burung terlalu berair (encer), berarti ada gangguan dalam sistem pencernaan, dan biasanya berkaitan dengan masalah pakan yang dikonsumsi burung.
  • Hidung atau mata berair
    Burung yang normal dan sehat memiliki mata, telinga, paruh dan lubang hidung yang bersih dan kering. Jika Anda melihat salah satu organ tubuh tersebut berair, misalnya mata berair, atau dari lubang hidung (nostril) keluar cairan, bisa dipastikan burung dalam kondisi sakit.
  • Duduk di lantai kandang
    Burung yang sakit parah menunjukan gejala duduk di dasar kandang, tidak mau naik ke tenggeran karena terlalu lemas.
  • Vent atau kloaka yang kotor
    Burung cockatiel yang sehat akan memiliki vent atau kloaka yang bersih. Jika daerah sekitar kloaka ada kotoran yang menempel dalam jumlah banyak, berarti burung mengalami gangguan kesehatan.
  • Suara aneh waktu bernafas
    Burung yang sehat akan bernafas dengan normal dan tanpa mengeluarkan suara apapun saat bernafas. Jika burung mengeluarkan suara yang terdengar di telinga Anda, ada kemungkinan burung mengalami masalah pada tenggorokan atau saluran pernafasannya.
  • Ekor yang naik-turun
    Jangan remehkan ekor burung yang naik-turun seirama dengan nafasnya, karena itu menunjukkan burung sedang dalam kondisi kepayahan karena sakit yang dideritanya. Tetapi bisa juga hal tersebut berkaitan dengan kelelahan, atau karena takut atau gugup saja.
  • Bau kotoran yang menyengat
    Biasanya burung betina akan mengeluarkan kotoran berbentuk lebih besar dari biasanya dan sangat bau saat berada dalam kondisi siap kawin atau sedang bertelur dan mengerami. Tetapi jika gejala itu muncul ketika burung tidak dalam kondisi birahi atau bereproduksi, segeralah periksa dan bawa ke dokter hewan karena siapa tahu ada masalah dengan kesehatan burung tersebut.

Semoga informasi tersebut berguna bagi Anda semua, khususnya penggemar burung paruh bengkok, yang tertarik untuk memelihara atau menangkar burung cockatiel ini. Semoga sukses.

Penting:

  1. Burung Anda kurang joss dan mudah gembos? Baca dulu yang ini.
  2. Tanya Om Kicau? Klik saja Curhat.
  3. Cek artikel menarik lainnya di bawah ini:



ANDA PERLU DESIGN BROSUR DAN PIAGAM LOMBA? KLIK GAMBAR DI BAWAH INI YA…

JASA DESAIN BROSUR DAN PIAGAM LOMBA BURUNG

BURUNG SEHAT BERANAK PINAK… CARANYA? PASTIKAN BIRD MINERAL DAN BIRD MATURE JADI PENDAMPING MEREKA.

Banyak penipu catut nama omkicau.com. Ingat saja sobat, Om Kicau tidak pernah berjualan burung secara online, melalui BB ataupun website lain.

PERACIKAN OBAT/SUPLEMEN BURUNG OM KICAU DI BAWAH PENGAWASAN DAN KONSULTASI DENGAN DRH HM HAYAT TAUFIK JUNAIDI.

2 Comments

  1. tolong dong om,
    mutasi Mutasi warna pada cockatiel disertai dengan gambar, agar saya yang awam tau mana itu pear mana itu cinnamon

Komentar ditutup.