Tak ada lagi anis merah bersarang di dekat rumah: Cerita dari Desa Gesing, Banjar, Buleleng

Bali dikenal sebagai salah satu sentra penghasil burung anis merah (Zoothera citrina). Banyak AM jawara tingkat nasional yang berasal dari Pulau Dewata. Ketika pamor burung ini melambung, sekitar dasawarsa 1990 – 2000, terjadi perburuan yang tak terkendali di sejumlah kawasan, tidak terkecuali di Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Dulu, anakan AM yang dibawa ke Jawa dalam satu musim bisa mencapai 50.000 ekor! Wow !!! Dampaknya, kini tak ada lagi anis merah yang bersarang di dekat rumah warga.

Kini tak ada lagi anis merah yang bersarang di pepohonan halaman rumah warga.
Kini tak ada lagi anis merah yang bersarang di pepohonan halaman rumah warga.

Dulu anis merah bukan hanya senang membuat sarang di dekat rumah warga, tetapi juga membangun sarang di dalam rumah, tanpa khawatir terganggu oleh penghuni rumah. Ini menunjukkan betapa anis merah sudah beradaptasi secara alami dengan kehidupan masyarakat setempat.

Selain itu, hingga dasawarsa lalu, penduduk Desa Gesing juga masih sering melihat kawanan anis merah yang lalu-lalang di jalan-jalan kampung, bertengger nyaman di pundak sapi bali yang bertubuh kecil dan berwarna kemerahan. Bahkan, tidak sedikit pula anis merah yang masuk ke dalam rumah.

Peta Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.
Peta Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.

Kini seluruh pemandangan tersebut sirna. Anis merah sudah jarang lagi bertandang ke rumah penduduk, bahkan makin sulit dijumpai di wilayah Desa Gesing. Bukan hanya anis merah, tetapi juga beberapa jenis burung lain yang dulu banyak dijumpai di desa itu, seperti beo, rangkong (rangkok / enggang), kacer, dan jalak putih. Semuanya seperti menghilang. Kalau pun terlihat, hanya satu-dua ekor saja.

Maaf menyela: Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis... Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk Android di Google Play Dapatkan Aplikasi Omkicau untuk iPhone di App Store

Hal inilah yang memunculkan keprihatinan luar biasa di kalangan pencinta lingkungan hidup, termasuk Kepala Desa Gesing Nyoman Sanjaya. Saat ini ia bersama tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan aparat desa lainnya sedang membuat program konservasi untuk mengembalikan ekosistem alam di desanya, sehingga bisa mendekati situasi di era 1990-an.

Kepala Desa Gesing, Nyoman Sudarma, bersama tokoh masyarakat setempat. (foto: agrobur)
Kepala Desa Gesing, Nyoman Sanjaya, bersama tokoh masyarakat setempat. (foto: agrobur)

Program itu bisa diwujudkan melalui beberapa jalur, termasuk jalur hukum dengan membuat peraturan adat yang melarang penangkapan berbagai jenis burung dewasa, melakukan penangkaran alam, dan lain sebagainya.

Namun, pembuatan aturan adat perlu dipertegas lagi. Pasalnya, beberapa desa sentra anis merah di Bali pernah membuat aturan serupa, tetapi toh tidak mampu menurunkan angka perburuan burung (anakan maupun dewasa). Penempatan sukarelawan untuk menjadi jagawana (mengadopsi model pengamanan yang dikembangkan Kementerian Kehutanan) sangat diperlukan.

Hampir terjadi di semua wilayah Bali

Cerita pilu tentang anis merah dan burung kicauan lainnya di Desa Gesing sesungguhnya juga dijumpai di beberapa desa lainnya, seperti Desa Munduk dan Desa Sepang, keduanya juga masih berada di wilayah Kecamatan Banjar. Bahkan di dua desa ini sudah tidak terlihat lagi indukan anis merah. Ini menjadi sinyal buruk, karena bisa dikatakan tak akan pernah ada lagi anakan anis merah.

Dampak berkurangnya populasi burung sudah dirasakan masyarakat Desa Gesing dan sekitarnya, antara lain meningkatnya populasi ulat hitam yang sangat mengganggu ketenangan penduduk. Ulat hitam yang biasanya menjadi santapan burung kicauan ini sering masuk ke rumah-rumah warga.

Kalau mau dipetakan lebih luas, fenomena menipisnya populasi anis merah juga terjadi di hampir semua wilayah di Pulau Bali, seperti di Pupuan (Tabanan), Petang (Badung), Kintamani (Bangli), Jembrana, serta Selat Karangasem.

Semua ini akibat perburuan besar-besaran terhadap anakan dan indukan anis merah di masa lalu, ketika pamor anis merah meroket pada awal 2000-an. Dulu, di arena lomba, anis kembang muncul lebih dulu daripada anis kembang. AK sempat menjadi burung favorit, harganya pun sempat melambung tinggi.

Begitu anis merah muncul, dan dijadikan kelas tersendiri di berbagai lomba, pamor AK langsung merosot (bahkan sampai sekarang). Gaya teler-ndoyong anis merah ketika bernyanyi membuat para kicauamania berlomba-lomba untuk memilikinya.

Alhasil, permintaan konsumen terhadap anis merah pun meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai sentra anis merah, Bali pun menjadi perburuan utama burung ini, baik yang dilakukan secara mandiri oleh para pemikat burung, atau yang dikoordinasi pengepul, atau langsung di bawah komando para agen.

Data perdagangan anis merah dari Bali ke Jawa pada awal 2000-an pun sungguh mencengangkan, meski pada akhirnya membuat saya pribadi makin memahami mengapa populasi anis merah di Bali kini makin menipis. Menurut laporan wartawan Tabloid Agrobur, Gde Sumida, saat itu tercatat sekitar 50.000 ekor anis merah dari Bali yang dibawa ke Jawa dalam satu musim.

Burung sebanyak itu berasal dari puluhan agen di Pupuan, Singaraja, dan Denpasar. Bahkan ada seorang agen yang setiap tahun rata-rata mengirim 12.000 ekor anakan anis merah ke Jawa. Setiap agen biasanya merekrut puluhan pengepul di daerah sentra anis merah, termasuk di Desa Gelis, Munduk, dan Sepang.

Tugas para pengepul adalah mengambil burung hasil tangkapan para pemikat, bahkan tidak sedikit pula yang melihatkan para petani setempat. Tetapi, seperti dijelaskan di atas, ada juga pemikat mandiri yang tidak bermitra dengan pengepul. Begitu mendapatkan burung, ia langsung menjualnya ke pasar burung.

Karena terjadi selama bertahun-tahun, sangat wajar jika populasi anis merah menyusut drastis. Pasalnya laju perkembangbiakan burung tak sebanding dengan jumlah burung yang ditangkap.

Tahun lalu, misalnya, seorang agen “hanya” mampu mengirim 4.000 ekor AM ke Jawa, itupun dilakukan secara bertahap dalam empat periode. Bukan lantaran terjadi penurunan permintaan (demand), namun karena memang makin sulit untuk mendapatkan anis merah di alam bebas.

Semoga saja program konservasi di Desa Gesing bisa segera direalisasi, berjalan efektif, dan masih dapat menyelamatkan burung-burung yang tersisa, sekaligus mengembangbiakkannya agar populasinya dapat dikembalikan seperti dulu.

Merindukan anis merah yang berkeliaran di jalan.
Merindukan anis merah yang berkeliaran di jalan.

Semoga cerita pilu dari Desa Gesing ini dapat membangun kesadaran baru di kalangan kicaumania, baik penggemar anis merah maupun burung kicauan lainnya. Mulai sekarang harus ditumbuhkan kesadaran bersama, bahwa menikmati kicauan burung di rumah atau mengikuti lomba burung, tidak mutlak harus berasal dari tangkapan alam.

Ya, membeli burung hasil penangkaran harus lebih diutamakan, agar puluhan jenis burung kicauan tidak sekadar menjadi dongeng bagi anak-cucu kita kelak, yang hanya bisa melihatnya dari gambar dan video, atau mendengarnya dari rekaman suaranya saja.

Semoga bisa menjadi renungan kita bersama.

Sumber: diolah dari Tabloid Agrobur No 668 dan referensi lainnya.

Penting:

  1. Burung Anda kurang joss dan mudah gembos? Baca dulu yang ini.
  2. Tanya Om Kicau? Klik saja Curhat.
  3. Cek artikel menarik lainnya di bawah ini:



ANDA PERLU DESIGN BROSUR DAN PIAGAM LOMBA? KLIK GAMBAR DI BAWAH INI YA…

JASA DESAIN BROSUR DAN PIAGAM LOMBA BURUNG

BURUNG SEHAT BERANAK PINAK… CARANYA? PASTIKAN BIRD MINERAL DAN BIRD MATURE JADI PENDAMPING MEREKA.

Banyak penipu catut nama omkicau.com. Ingat saja sobat, Om Kicau tidak pernah berjualan burung secara online, melalui BB ataupun website lain.

PERACIKAN OBAT/SUPLEMEN BURUNG OM KICAU DI BAWAH PENGAWASAN DAN KONSULTASI DENGAN DRH HM HAYAT TAUFIK JUNAIDI.

5 Comments

  1. Jangankan Anis merah Bali,anis merah lokal populasinya pun hampir punah….,
    para pemikat burung yang ngawur klo cari burung indukan/anakan tangkapin semua.contoh didaerah saya jember cucak ijo sebentar lagi habis populasinya….,semua diburu..hadeehhh,berharap kepada breeder ajah klo gtu….

  2. Masyarakat indonesia paling parah kesadarannya. Mereka lebih mengutamakan uang daripada kelangsungan hidup burung2 di alam. Ini hanya bisa ditekan dengan cara pemberlakuan hukum yg sangat tegas seperti yg sudah diterapkan di negara lain. Jangankan anis merah…saat ini burung gereja pun sdh ada yg jual di beberapa PB, harganya 25-50rb. Miriskan…

  3. KITA SEMUA HARUS LEGOWO AGAR ANIS MERAH TDK DILOMBAKAN LAGI, JANGAN SEPERTI ANIS KEMBANG YG SUDAH TERLANJUR LANGKA DI ALAM BARU LOMBANYA SEPI.

  4. Agar anis merah ini bisa lestari kembali dan dapat hidup bebas dengan tenang mungkin diperlukan kesadaran bersama baik dari masyarakat sekitar, para pemburu dan juga para pembeli. kesemuanya harus sepakat untuk tidak mengganggu habitatnya maupun memperjual belikan anis tersebut.

  5. sama seperti di daerah sya, skrng syya cuman bisa mendengarkan cerita2 masa lampau, bahwa dulu AM banyak berkeliaran di dkat pemukiman tempat tinggal sya, bahkan tak sedikit jika ketika ditangkap terus dijadikan lauk pauk… Sedih sekali. Skrng sya hanya bisa lihat AM yg ada disangkar. Memang perlu kesadaran dri semua pihak.

Komentar ditutup.