Banyak kejutan yang terjadi dalam even Piala Raja 2013 di Candi Prambanan, Sleman, Minggu (9/6) lalu. Salah satunya di Kelas Lovebird Pariwisata A, di mana Kirana milik Dwi Wahyudi / Joko Pamungkas hasil ternakan DT Bird Farm (Griya Taman Asri, Sleman), mampu menembus dominasi gaco lawas dan sudah mapan di berbagai even nasional. Bukan hanya itu! Kirana yang baru berumur enam bulan dan merupakan produk lokal ini mampu bertarung melawan beberapa loverbird jawara produk impor.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Lovebird Kirana yang mencorong di Piala Raja 2013.

Di Kelas Pariwisata A, Kirana hanya kalah dari lovebird Janda milik dokter Mulyana (Jayakarta Team) yang memang sarat prestasi. Janda menjadi juara 1, sedangkan Kirana berada di posisi runner-up.

Posisi ini mengungguli dua gaco berpengalaman, Bluedrue milik Piere (Duta Jakakarta) dan Elang Biru milik Anto 999 Sragen. Bluedrue menempati urutan ketiga, sedangkan Elang Biru di posisi ketujuh. Selama ini, Elang Biru beberapa kali mendominasi even di Blok Tengah.

Selain menjadi juara kedua, Kirana juga masuk 10 besar Kelas Lovebird Sekar Kedaton A, dan berada di urutan ketujuh. Sebuah prestasi fantastis dan fenomenal untuk lovebird muda usia. Seiring dengan pertambahan umur, prestasi Kirana diperkirakan akan melejit secara bertahap.

Piagam juara 2 Piala Raja

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Piagam juara 7 Piala Raja

Trofi Mahkota Raja untuk lovebird Kirana.

Melacak silsilah lovebird Kirana

Om Duto (kiri) ketika berkunjung ke rumah Om Dwi Wahyudi.

Menarik sekali untuk mengupas jatidiri Kirana, yang membuat penasaran beberapa pemain lovebird di Piala Raja kemarin. Berdasarkan penelusuran Om Kicau yang bertandang ke rumah Om Dwi Wahyudi di Griya Taman Asri Blok D 301, Sleman, Kirana merupakan keponakan dari Golden Kidz (GK).

Lovebird Kirana

Siapakah GK itu? Nah, kisah inilah yang ingin diceritakan Om Kicau, karena merupakan parade LB muda yang sarat prestasi. Golden Kidz pernah menggegerkan jagad perlovebirdan, karena mampu memenangi even di Denggung, Sleman (2010) dalam umur 4 bulan ! Bukan hanya itu, adiknya malah memenangi even di Manahan, Solo, pada umur yang lebih muda lagi: 3 bulan!!! Percaya nggak percaya, tetapi cerita tentang GK dan adiknya pernah ditulis Om Kicau di sini.

Golden Kidz merupakan cucu dari Golden Boy (GB), lovebird betina yang ditangkar Om Dwi Wahyudi. Bukan tentang prestasinya yang pernah jadi juara 1 hingga 50 kali lebih, tetapi mental bertarungnya yang luar biasa dan tahan stres. Ya, jarang dijumpai ada lovebird yang sedang mengerami telurnya, tiba-tiba langsung dibawa ke arena lomba dan tetap juara 1. Usai lomba, GB kembali dimasukkan ke sarang dan meneruskan proses pengeramannya hingga menetas.

Cerita tentang kehebatan Golden Boy, yang tahun lalu masih sering ikut lomba, pun terdengar ke mana-mana. Tidak sedikit pula oknum nakal yang melakukan penipuan dengan menjual lovebird yang diakunya sebagai Golden Boy atau keturunannya (cek kisah selengkapnya di sini).

Melihat uraian di atas, maka Kirana merupakan cicit GB dan keponakan GK. Karena Kirana adalah filial pertama (F1) atau keturunan pertama dari adik GK, sedangkan GK merupakan F2 (cucu) dari GB. Ada kecenderungan trah GB sudah moncer di kancah lomba pada umur muda, sebelum 6,5 bulan: “batasan” yang kerap dianut lovebird lovers untuk melombakan momongan cantiknya.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Kombinasi faktor genetis dan pakan berkualitas

Adik Kirana yang menetas Maret 2013.

Kirana menetas sekitar pertengahan Desember 2012. Saat itu, hanya dia satu-satunya telur yang menetas. Sang induk lalu menghasilkan anakan lagi, yang notabene menjadi adik Kirana, pada Maret 2013. Uniknya, adik Kirana juga satu-satunya anakan yang menetas saat itu.

Menurut Om Dwi, trah juara memang sangat penting dalam menghasilkan keturunan yang kelak memiliki potensi besar untuk berprestasi di arena lomba. Tetapi, faktor genetik bukan faktor tunggal yang menentukan prestasi burung.

“Faktor perawatan, khususnya masalah pakan, juga memiliki pengaruh besar terhadap prestasi lovebird. Bahkan, perawatan sejak piyikan pun memiliki imbas ke masa depan lovebird ketika dewasa,” ujarnya.

Karena itulah, sejak piyikan, ia selalu memanen anakan pada umur 5 hari, kemudian dilolohnya sendiri. Bahan untuk hand feeding menggunakan Nutrilove, karena cepat membongsorkan piyikan dan sangat membantu dalam mencetak  prestasi di lapangan

Nutrisi khusus untuk LB lolohan ini merupakan hasil riset dan pengembangan yang dilakukan DT Bird Farm, kemudian di-branding dengan nama Nutrilove. “Jadi sebelum dipasarkan ke orang lain, kita sudah berkali-kali mencobanya sendiri, dan alhamdulillah selalu berhasil. Golden Kidz dan Kirana merupakan beberapa contoh saja mengenai kombinasi faktor genetik dan faktor pakan berkualitas,” kata Om Dwi yang low profile itu.

Om Dwi: Prestasi lovebird kombinasi faktor genetis, pakan, dan perawatan.

Salah satu kunci penentu kualitas Nutrilove adalah seluruh materi menggunakan bahan organik, sehingga bukan hanya kaya nutrisi, tetapi juga aman dan bebas dari paparan bahan pestisida. Saluran pencernaan bayi lovebird aman dari residu, dan saluran pernafasan pun menjadi lapang sehingga burung nantinya bisa ngekek panjang.

“Tetapi prestasi burung-burung breeding di sini (DT Bird Farm) juga tidak terlepas dari pendampingan produk Om Kicau, seperti Bird Mature untuk induk dalam penangkaran, BirdVit untuk memenuhi asupan vitamin, serta BirdMineral untuk memastikan burung kecukupan mineral. Semua ini membuat produk lovebird di DT Bird Farm rata-rata memiliki stamina prima,” tambah Om Dwi.

Kapan Kirana mulai dilombakan?

Menurut Om Dwi, sejak menetas hingga pertengahan Mei 2013, Kirana dirawat dalam farm (DT Bird Farm). Setelah itu, untuk kali pertama diturunkan dalam Latber Sabtu Rendezvous KMYK Jogja, 25 Mei lalu. Dari 59 ekor burung, Kirana masuk 10 besar dan menjadi juara 8.

Tampil perdana di KMYK, 25 Mei 2013, Kirana langsung tembus 10 besar.

Setelah itu, Kirana tidak dilombakan lagi dan hanya dipersiapkan menuju Piala Raja di Prambanan. Jadi, Piala Raja merupakan even kedua yang diiikuti Kirana.

Turun di Kelas Sekar Kedaton A, Kirana dengan nomor gantangan 21 harus bersaing dengan lovebird-lovebird papan atas nasional. Mungkin karena masih harus beradaptasi, apalagi ini even nasional, Kirana masih harus mengakui ketangguhan enam burung lainnya.

Saat itu Om Dwi sudah merasa puas, karena momongannya bisa masuk 10 besar dan finis di urutan ke-7. Selain karena ini merupakan even kedua, dia hanya berharap menambah jam terbang untuk gaco mudanya itu.

Dwi Wahyudi dan istri

Dwi dan Joko Pamungkas

Kirana kemudian turun lagi di Kelas Pariwisata A. Di sinilah ketangguhan Kirana teruji. Meski digempur burung-burung yang usianya jauh di atasnya, Kirana seperti tidak mengenal takut. Ia terus memberikan aksi terbaiknya, sehingga mampu mengalahkan puluhan burung hebat. Hanya satu yang gagal diatasi Kirana, yaitu lovebird sarat prestasi milik dokter Mulyana, bernama Janda. Mungkin minder karena masih perawan, Om…

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

-7.550085110.743895