Mengingat angka kematian unggas, baik ayam, itik, maupun burung, lebih sering terjadi pada musim hujan, Om Kicau tak henti-henti mengingatkan masalah ini. Sebelumnya Om Kicau sudah membuat beberapa artikel terkait, baik secara umum maupun untuk jenis burung tertentu. Kali ini, Om Kicau akan share enam langkah mengamankan murai batu di musim hujan, berdasarkan pengalaman SKL  Bird Farm di Jatibarang, Indramayu.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Pilek, tetelo, serak, dan radang pernafasan menjadi musuh MB di musim hujan.

—-

Salah satu penyakit yang sering muncul di musim hujan adalah pilek. Bagaimana tindak pencegahan dan pengobatannya, silakan lihat kembali artikelnya di sini.

Namun yang lebih berbahaya lagi adalah ancaman penyakit tetelo pada unggas. Serangan penyakit ini bisa terjadi pada ayam, itik, dan burung. Jenis burung yang bisa terserang sangat beragam, meski yang paling sering adalah perkutut, merpati, murai batu, dan kacer.

Nah, khusus tetelo pada murai batu, Om Kicau pernah menulis beberapa artikel seperti di bawah ini:

Yang menarik adalah artikel kedua, soal tetelo yang biasa menyerang nirimh setiap dua tahun sekali. Hal ini berdasarkan pernyataan Om Tony Alamsyah, alias Tony Black, yang juga pengelola SapuRegel Team Cilacap. Kebetulan dia juga penangkar murai batu, dan selalu menjumpai fakta murai batunya sering terkena tetelo pada tahun genap.

Kasus terakhir dialaminya sepanjang Januari – Maret 2012. Itu berarti, Januari – Maret 2014 menjadi bulan kewaspadaan bagi para penangkar maupun pemilik murai batu. Meski Om Kicau tidak sepakat seratus persen, karena wabah tetelo dapat terjadi kapan pun, tidak ada salahnya kita meningkatkan kewaspadaan tersebut.

Om Syamsul Saputro, owner SKL Bird Farm, juga meminta kewaspadaan para penangkar dan pemilik murai batu terhadap ancaman tetelo, khususnya pada musim hujan. “Selain tetelo, penyakit lainnya yang perlu diwaspadai selama musim hujan adalah serak atau radang pada saluran pernafasan murai batu,” kata dia.

Gejala-gejala yang terlihat, tambah Om Syamsul, suara cetreken mengecil, bahkan jika telat ditangani bisa hilang sama sekali. “Dalam hitungan hari saja, si burung akan mati dengan mengeluarkan darah dari mulutnya,” jelas Om Syamsul.

Berdasarkan pengalaman Tim SKL Bird Farm selama ini, sedikitnya ada enam langkah preventif untuk mengamankan murai batu dari kemungkinan terserang pilek, tetelo, maupun radang pada saluran pernafasannya. Berikut ini rinciannya :

1. Jangan risih jika tak menjemur murai

Banyak penggemar murai batu yang menganggap bahwa penjemuran burung selama berjam-jam itu bersifat kudu alias wajib. Anggapan ini sebenarnya kurang tepat. Di alam liar, tidak pernah ada murai batu yang berpanas ria hingga lebih dari 1 jam, paling banter hanya 10-15 menit.

Kalau selama ini kita terbiasa menjemur burung 1 – 2 jam setiap hari, itu sebenarnya dalam konteks perawatan burung lomba. Untuk apa? Karena pada masa lalu, sebagian besar lomba burung berkicau belum menggunakan paddock lomba yang memiliki atap seperti saat ini.

Akibatnya, burung lomba yang tidak dibiasakan dijemur cenderung megap-megap saat bertarung di lapangan terbuka. Bahkan beberapa lapangan yang sudah beratap pun saat ini menggunakan bahan tembus pandang, sehingga sengatan matahari akan menerpa sangkar burung-burung yang berlaga.

Atap lapangan terbuat dari bahan tembus pandang.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

—-

Masalah penjemuran burung yang khas Indonesia ini pernah menjadi bahasan pada beberapa forum burung di negeri jiran, seperti Malaysia dan Singapura. Analisis mereka, termasuk dari Om David de Souza, umumnya ya seperti yang ditulis Om Kicau di atas.

Di Malaysia dan Singapura, sebagian lomba burung diadakan di teras bangunan, dan sebagian lagi di dalam gedung. Itu sebabnya, mereka umumnya hanya menjemur burung selama 10-15 menit setiap harinya, sekadar memperoleh provitamin D dari sinar matahari pagi, sebagai komponen utama bagi sistem pencernaan burung untuk mengolah kalsium.

Meski demikian, kebiasaan menjemur burung yang sudah ada di Indonesia tak perlu diubah. Namun, ketika musim hujan tiba, dan kondisi cuaca sedang tidak menentu, burung jangan dipaksakan untuk berjemur.

Istilah Om Syamsul Saputro, jangan risih jika Anda tak menjemur murai batu, meski selama beberapa hari, jika kondisi cuaca memang tidak mendukung. “Lebih baik burung tidak dijemur daripada risiko yang diterima sangat tinggi, seperti radang pada saluran pernafasan,” kata Om Syamsul.

2. Jika mau menjemur, pantau embusan angin

Kalau cuaca tidak mendung dan Anda ingin menjemur murai, sebaiknya pantau atau perhatikan dulu embusan angin. Apabila embusan angin terlalu kencang, lebih baik burung cukup diangin-anginkan di dalam rumah saja.

Caranya, burung digantang di dalam rumah (bukan di teras rumah). Jika waktu masih pagi, kerodong boleh dibuka full hingga siang hari.

Selebihnya,  jika angin terlalu kencang, sejak siang hingga malam burung sebaiknya dikerodong saja. Kerodong boleh dibuka sebentar pada sore hari, ketika memberi jangkrik, menambah voer, maupun menambah air minum.

Bisa juga disiasati dengan menggantung burung di dalam rumah, tetapi bagian atapnya tembus pandang seperti gambar di bawah ini:

Jika cuaca tak menentu, cukup dianginkan di dalam rumah.

—-

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

3. Selalu awas dengan “permainan” matahari

He.. he.. sebenarnya matahari tidak pernah bermain-main. Dia akan tetap bersinar dengan intensitas yang sama. Hanya saja, sinar matahari yang sampai ke rumah kita memiliki intensitas berbeda-beda, tergantung faktor alam seperti jumlah awan, ketebalan awan, hujan atau tidak, dan sebagainya.

Jangan terkecoh dengan sinar matahari yang datang tiba-tiba pada pagi hari, setelah sebelumnya tertutup awan mendung tebal. Begitu melihat sinar matahari mulai terasa hangat, biasanya kita atau perawat burung langsung sumringah dan ingin segera menjemur burungnya.

Karena itu, sebaiknya tunggu beberapa saat sambil selalu memperhatikan kondisi cuaca. Kalau sinar matahari tidak lagi terhalang awan mendung, dan angin sudah tidak terlalu kencang, bolehlah mulai melakukan penjemuran. Pastikan selalu ada orang yang siaga, jika sewaktu-waktu muncul embusan angin kencang atau bahkan cuaca tiba-tiba mendung dan turun hujan.

4. Jangan memaksakan murai harus mandi

Jika udara dingin, burung tak mau mandi, hindari cara seperti ini.

—-

Mandi merupakan salah satu aktivitas yang menyegarkan bagi burung kicauan. Tetapi selama musim hujan, sebagian burung tidak mau mandi. Misalnya, ketika dimasukkan karamba, dia tak mau segera nyemplung.

Sebenarnya ini merupakan isyarat bahwa burung sedang tidak ingin mandi. Sebab yang bisa merasa fit dan tidaknya kondisi burung adalah burung itu sendiri, bukan pemiliknya.

Karena itu, jika melihat burung tak mau mandi pada musim hujan, sebaiknya jangan dipaksa agar dia mau mandi. Misalnya dengan menyemprotnya menggunakan air dari sprayer, untuk memancingnya agar mau nyemplung di karamba.

Burung sebenarnya memiliki naluri kapan waktunya mandi, atau kapan dia memerlukan mandi. Jadi, jangan disamakan dengan manusia yang setiap hari harus mandi agar badannya tidak bau, he.. he…

5. Menjaga kebersihan sangkar dan aksesorisnya

Frekuensi pembersihan sangkar, khususnya membersihkan kotoran burung, memang berbeda-beda antara kicaumania yang satu dan yang lainnya. Namun selama musim hujan, sebaiknya pembersihan sangkar dilakukan setiap hari.

Sebab agen penyakit, terutama bakteri, jamur, parasit (tungau, cacing, kutu), mudah sekali masuk melalui kotoran burung, terlebih di musim hujan. Adapun agen penyakit seperti virus umumnya bergerak melalui udara.

Kandang bersih bisa menekan potensi serangan penyakit.

—-

Untuk air minum, Om Syamsul menyarankan penggantian dapat dilakukan minimal dua kali sehari, yaitu pagi dan sore. “Kalau voer boleh diganti tiga hari sekali,” ujarnya.

Yang tidak kalah penting, kerodong sebaiknya digunakan paling lama hanya seminggu. Setelah itu mesti dicuci hingga bersih dan steril. Sambil menunggu kering, Anda bisa memakai kerodong yang lain.

Seminggu sekali, sangkar perlu disucihamakan dengan menggunakan desinfektan khusus burung, misalnya FreshAves. Larutkan 5 gram serbuk FreshAves ke dalam 1 liter air bersih, lalu dimasukkan ke sprayer, dan semprot ke seluruh bagian kandang, termasuk celah-celah pada bagian sambungan.

Jangan sepelekan masalah ini. Sebab ketika tetelo dan radang saluran pernafasan sudah menyerang burung, kita acapkali merasa menyesal, dan itu sudah terlambat atau setidaknya memerlukan upaya lebih keras untuk mengobatinya.

6. Jangan sepelekan pula mutivitamin

Tetap fit di musim hujan.

Masih banyak kicaumania yang menyepelekan multivitamin untuk burung piaraannya. “Ah, burung di alam liar tak pernah pakai multivitamin, toh bisa tumbuh sehat dan rajin bunyi,” begitu pemikiran sebagian kicaumania.

Benar, burung di alam liar tak pernah pakai multivitamin. Tapi perlu diingat! Di alam liar, burung bisa memenuhi kebutuhan gizi / nutrisi berdasarkan naluri dan ketersediaan bahan pakan di alam. Sebab dia sama sekali tak tergantung pada manusia.

Namun jika dipelihara dalam sangkar, semua kebutuhan burung tergantung dari manusia yang setiap hari merawatnya. Bahasa gampangnya, kita bisa membuat seekor burung menjadi kurus dan gemuk. Kita bisa membuat burung kecukupan dan kekurangan vitamin.

Multivitamin sangat diperlukan bagi burung untuk mempertahankan mekanisme pertahanan tubuh dari berbagai serangan agen penyakit. Burung yang terbiasa diberi multivitamin seperti BirdVit, 2 – 3 kali seminggu, memiliki kemampuan melawan serangan agen penyakit lebih bagus daripada burung-burung yang sama sekali tidak pernah diberi multivitamin.

“Bagaimana pun burung berkicau termasuk murai batu perlu diberi asupan multivitamin, apalagi kini musim hujan. Biar kondisi fisiknya lebih fit dan tidak mudah sakit,” kata Om Syamsul Saputro.

Itulah enam langkah pengamanan murai batu selama musim hujan berdasarkan pengalaman Tim SKL Bird Farm.

“Jika enam langkah ini sudah dilaksanakan dengan baik, tetapi burung kita tetap terserang penyakit, bahkan sampai tewas, ya.. harus diterima dengan lapang dada. Itulah risiko paling berat jika bermain dengan barang bernyawa,” tambah Om Syamsul.

—-

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.