Artikel kali ini ingin mengupas tuntas prestasi lovebird Kusumo dalam beberapa even terakhir. Tidak seperti biasanya, belakangan ini LB Kusumo jarang memborong gelar juara, misalnya quattrick (4 kali juara), quintrik (5 kali juara), pentatrick (6 kali juara), atau tujuh kali juara (istilahnya apa ya..) seperti yang diraihnya dalam even Gubernur Jateng Cup di Semarang (16/8).

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Dalam kontes Piala Raja 2015 di Candi Prambanan (6/9), misalnya, lovebird Kusumo “hanya” dua kali meraih juara 1. Seminggu kemudian, burung kesayangan H Sigit WMP Klaten ini juga dua kali meraih juara pertama dalam even Gubernur Jawa Barat Cup II di Bogor.

Sebenarnya dari aspek penampilan, Kusumo tetap menawan. Dalam Piala Raja, Kusumo tampil pada tujuh kelas sekaligus, dan selalu masuk peringkat atas. Selain dua kali juara 1, Kusumo juga mencatat empat kali juara kedua dan sekali juara 3. Ini menunjukkan bahwa Kusumo tetap tampil stabil.

Suasana kelas lovebird dalam even Gubernur Jabar Cup II di Bogor, Minggu (13/9).

Adapun dalam gelaran Gubernur Jabar Cup II, lovebird Kusumo tampil empat kali. Pada sesi pertama dan kedua, Kusumo selalu meraih pertama. Namun pada sesi ketiga harus nangkring di posisi runner-up di bawah lovebird Prabu koleksi Baleva (Nusantara Team).

Sesi terakhir digelar sekitar pukul 20.00, atau berselisih sembilan sesi dari sesi ketiga. Di sini Kusumo sudah tidak mau nampil lagi, sehingga tidak masuk nominasi juara.

Berdasarkan penelurusan Om Kicau, tradisi sapubersih gelar juara sudah tidak lagi diraih LB Kusumo sejak tampil dalam Kebumen Award yang dihelat PBI Kebumen, 23 Agustus lalu. Namun satu minggu berikutnya, saat turun dalam even Launching Ronggolawe Priangan Timur di Ciamis (30/8), Kusumo mampu memborong lima kelas lovebird yang diikutinya.

Apakah penampilan lovebird Kusumo mulai menurun?

Lovebird Kusumo digantang di dalam rumah, di bawah lampu penerangan.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Dan, ketika Kusumo “hanya” meraih dua gelar juara 1 dalam Piala Raja 2015 dan Gubernur Jabar Cup II, muncul pertanyaan di kalangan lovebird lovers terutama para penggemarnya: apakah penampilan Kusumo mulai menurun?

Pertanyaan itu memang dapat menimbulkan perdebatan yang panjang-lebar. Sebenarnya naik-turun prestasi seekor burung merupakan hal wajar atau biasa. Ini juga dialami para atlet di dunia olahraga.

Sehebat apapun pebalap MotoGP Valentino Rossi, tak selamanya dia naik podium alias gagal masuk posisi tiga besar. Siapa sangka timnas Spanyol, juara dunia 2010 dan juara Eropa 2012, gagal melaju ke 16 besar Piala Dunia 2014 di Brazil.

Sebagai makhluk hidup, lovebird Kusumo juga memiliki bioritme tersendiri yang bisa naik, bisa turun, tergantung dari mood, kondisi fisik, juga kondisi lawan-lawan yang dihadapinya. Itu tak akan pernah sama antara lomba hari ini dan pekan depan, atau dua pekan berikutnya.

Karena itu, ketika Kusumo tidak mampu meneruskan tradisi sapubersih gelar juara, sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Sekali lagi, itu hal yang wajar terjadi pada setiap makhluk hidup, baik burung dan hewan lainnya, maupun manusia.

Jika mau jujur, sebenarnya jarang sekali kita menjumpai lovebird dengan tingkat kestabilan prestasi sebagus Kusumo. Boleh jadi, sejauh pengamatan Om Kicau, satu-satunya lovebird yang mendekati tingkat kestabilan prestasi Kusumo adalah Jalal, gaco andalan Om Ade Sulistio dan Om Yehezkiel dari KKLB Bandung.

Durasi, kerajinan, dan stabilitas Kusumo benar-benar belum ada duanya. Lovebird yang meraih juara pada even tertentu, dengan penampilan hebat dan lengkap, tentu banyak sekali. Tetapi yang mampu tampil stabil pada 4-5 kelas, apalagi selalu juara 1, amatlah sedikit. Biasanya hanya tampil apik dalam 1-2 kelas, selebihnya gagal nampil atau tampil kurang maksimal.

Lovebird Kusumo nyaris hattrick di Gubernur Jabar Cup II.

Ingat, prestasi fenomenal lovebird Kusumo sudah dimulai sejak 1 Maret 2015, ketika menjuarai lima kelas dalam even FairPlay Cup di Solo. Sejak itu, nyaris setiap pekan Kusumo melakukan sapubersih, atau sedikitnya hanya lepas 1-2 kelas saja.

Itu terus terjadi hingga Agustus lalu, kecuali dalam gelaran Kebumen Award. Bayangkan, enam bulan terus berprestasi dengan raihan juara 1 rata-rata pada empat kelas atau lebih.

Memang, ada sebagian juri yang menganggap volume lovebird Kusumo melemah. Hal itu diamatinya dalam even Piala Raja, ketika Kusumo mendapat koncer B atau C. Namun mengenai masalah ini, Om Sigit WMP dengan tegas membantahnya.

( baca juga Bantahan Om Sigit WMP soal melemahnya volume LB Kusumo )

Beberapa orang lalu membandingkan prestasi Kusumo dan Jalal di Piala Raja. LB Jalal saat itu meraih empat kali juara 1, sedangkan LB Kusumo dua kali.

Tetapi perbandingan ini jelas kurang  fair, karena kedua burung sebenarnya hanya sekali bertemu di Piala Raja, yaitu di Kelas Prameswari A. Kelas itu dijuarai LB Srikandi (Robert Pemburu Bondowoso). Kusumo menjadi juara 2, Opium juara 6, dan Jalal di peringkat 9.

Pada enam kelas lainnya, ketika Kusumo meraih juara 1, 1, 2, 2, 2, dan 3, Jalal tidak ikut berlaga. Dan sebaliknya, ketika Jalal meraih empat kali juara 1, serta sekali juara 4 dan 10, Kusumo juga tak main di kelas-kelas tersebut. Jadi, keduanya hanya sekali bertemu, yakni di Prameswari A.

Kusumo dan Jalal sama-sama burung hebat. Keduanya sedang berjuang menorehkan tintas emas di jagat perlovebirdan nasional, sehingga tak perlu diperbandingkan. Toh keduanya telah membuktikan dirinya sebagai sesama jawara nasional, sama-sama lovebird terbaik di negeri ini.

Jumlah penggemar LB Kusumo makin bertambah

Apapun kondisi LB Kusumo saat ini, ada satu hal yang tak terbantahkan, yaitu jumlah penggemarnya makin bertambah. Kusumo tetap dikagumi dan menjadi tontonan memikat. Bahkan di mata mereka, Kusumo tetaplah lovebird paling fenomenal dan belum ada duanya di Indonesia sampai saat ini.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Di mana pun dia bakal berlomba, banyak penggemarnya yang sengaja datang ingin melihat aksinya secara langsung. Terkadang penggemarnya datang dari jauh. Lihatlah bocah kecil asal Madura yang minta diantar pamannya ke Surabaya, hanya ingin melihat Kusumo turun dalam even Surabaya Cup (10/5).

Begitu pula di Piala Raja 2015, puluhan lovebird lovers sengaja datang untuk melihat aksi LB Kusumo. Misalnya Jabing, fan Kusumo dari Wangon, Kabupaten Banyumas. Dia mengajak kakaknya datang ke Candi Prambanan, mengendarai sepeda motor.

Lovebird Kusumo selalu dikerumuni para penggemarnya.

Berangkat Sabtu (5/9) sore, keduanya tiba di Jogja sekitar pukul 22.00. Om Nanang Tobil, kru H Sigit WMP di Jogja, kemudian menginapkan keduanya di edOTEL Hotel yang berada di kawasan Bogem, Kalasan, Sleman.

Hanya saja, Minggu dinihari, Jabing dan kakaknya memilih beristirahat di mushola SPBU tak jauh dari hotel. “Saya lebih nyaman menginap di mushola ketimbang di hotel,” kata Jabing.

Bagi para fan Kusumo yang berteman dengan H Sigit WMP di facebook, nama Jabing cukup familiar. Sebab dia menjadi semacam “asisten” Om Sigit dalam menjawab aneka pertanyaan tentang Kusumo, termasuk mengarahkan untuk membaca link atau wall tertentu apabila pertanyaan dan jawabannya pernah ada sebelumnya.

“Saya ingin menonton Piala Raja, karena ini even luar biasa, ingin ikut mendampingi Kusumo secara langsung. Selama ini kan hanya bisa membayangkan dari jauh. Nah, sekarang berkesempatan untuk mendampingi secara langsung, melihat secara langsung bagaimana persiapan Kusumo selama masa istirahat, saat menggantang, dan memberi semangat dari pinggir lapangan,” jelas Jabing.

Om Sigit WMP bersama Bang Ros dan kawan-kawan dari CLBK.

Ketua BnR Wilayah Sumbagsel, H Rico (Lampung), juga amat antusias ingin menyaksikan penampilan Kusumo di Piala Raja. Selain berlomba dan bersilaturahmi dengan sesama kicaumania, Om Rico juga memang penasaran melihat aksi Kusumo di lapangan.

Hal senada juga dituturkan Om Arif Sutan, ketua BnR Makassar. Selain menurunkan gaconya di kelas murai batu, dia ingin melihat secara langsung penampilan burung-burung papan atas di Indonesia, termasuk LB Kusumo.

“Tentu niatnya memang ingin main, bersilaturahmi, bukan sekadar memburu juara sesuai pesan dari Bang Boy. Saya juga ingin tahu suasana even Piala Raja yang disebut-sebut paling prestisius ini. Tentu tak menyia-nyiakan untuk bisa melihat langsung lovebird Kusumo,” ujar Om Arif Sutan.

Tingkah para penggemar Kusumo ketika tampil di Piala raja tak jauh berbeda dari even-even lainnya. Mereka selalu mengerubungi Kusumo saat istirahat, lalu mengikutinya saat mau digantang.

Para fan melihat langsung penampilan lovebird Kusumo.

Saat Kusumo berlaga, para fan juga selalu setia memantau dari pinggir lapangan, memberi aplaus saat juri memberi koncer, kemudian kembali mengikuti langkah kru H Sigit saat membawa Kusumo ke tempat istirahatnya lagi.

Ketika juri memberi koncer juara 1, para fan bertepuk tangan memberikan aplaus. Celetukan pendek dan spontan pun kerap terdengar, menandai kekaguman mereka.

Tapi saat juri menancap bendera koncer yang tidak sesuai dengan harapannya, para penggemarnya berteriak, “Loooohhh, … kok bisa? Nggak salah nih juri”.

Sebagian lagi penggemarnya sibuk memotret Kusumo. Tidak sedikit pula yang mengajak foto bareng Kusumo, atau foto bareng Om Sigit. Puluhan orang bahkan rela antre menunggu giliran foto bareng. (Waca)

Para penggemar antre foto bareng Om Sigit WMP.

Masih banyak cerita mengenai lovebird Kusumo. Silakan klik tautan di bawah ini:

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.

Page: 1 2 3 4 5