Pelestari Burung Indonesia PBI

Kabinet Pelestari Burung Indonesia (PBI) 2013-2018 harus ubah pesimisme jadi optimisme

Bagaimana kinerja kabinet baru Pelestari Burung Indonesia (PBI) periode 2013-2018 nanti? Salah satu opini yang muncul di media massa ternyata bernada pesimistis. Salah satu di antaranya adalah tulisan Om Wahyu Dwi Widodo di Agrobur Edisi 672 Maret 2013. Pesimisme itu berangkat dari susunan pengurus yang akan mendampingi Pak Bagya nanti. Banyak penipu catut nama omkicau.com.…

About these ads

Demo desak tutup Pasar Burung Pramuka aktivis “Center for Orangutan Protection” tindakan tak cerdas

Aksi unjuk rasa sejumlah aktivis “Center for Orangutan Protection” di Bundaran hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat 7 September 2012 mendesak penutupan Pasar Burung Pramuka dan Pasar Jatinegara adalah tindakan tidak cerdas dan mau menang sendiri. Seperti diberitakan sejumlah media, dalam aksi unjuk rasa itu mereka menyuarakan kepada para gubernur DKI Jakarta yang akan terpilih nanti…

Komersialisasi “Nasib” ala Mama Lauren dkk

Dalam situasi ketidakpastian dan krisis kepercayaan atas diri sendiri, manusia memang akan mencari pegangan. Nah, inilah kesempatan yang kemudian diambil oleh pihak lain yang pintar memanfaatkan situasi. Coba lihat itu kemunculan para dukun ramal di televisi. Entah itu yang diampu oleh orang-orang yang tadinya memang terkenal sebagai paranormal, seperti Imam Suroso, Joko Bodo, atau peramalam…

Solo berseri dalam kebengkongan…

Korban rel bengkong, tidaklah terbatas pada “dia” atau “mereka” sebagai orang-orang yang tidak kita kenal. Mereka bisa kawan kita, tetangga kita, kakak kita, anak kita, isteri atau suami kita, bahkan bisa diri kita sendiri. Tidak peduli siapapun orangnya, meraka adalah manusia. Kalau kita percaya, seharusnya nilai nyawa mereka lebih dari sekadar benda ekonomi. Penghargaan terhadap mereka, seharusnya, melebihi penghargaan kita terhadap kebanggaan masa lalu. Sebuah kebanggaan yang seringkali semu….

American influenza lebih mematikan…

Monopoli di bidang ekonomi dan hegemoni di bidang politik adalah obsesi para penguasa Amerika. Mereka akan merebutnya dengan berbagai cara, baik secara halus dengan pemanfaatan dan penyebaran isu, ataupun secara kasar dengan todongan moncong peluru kendali.

Hemat membawa sengsara…

Pemborosan seperti itu memang kita lihat sehari-hari. Berapa persen mobil pribadi dan juga mobil dinas yang berseliweran di jalanan yang terisi penuh sesuai kapasitas penumpang? Pada saat bersamaan, kita lihat pula mobil-mobil angkutan penumpang umum hanya terisi satu-dua orang. Juga, lihatlah kehidupan malam di sekeliling kita. Lampu terang benderang di jalan-jalan sepanjang ribuan kilometer. Semua jorjoran melebihi kebutuhan. Belum lagi lampu sorot ribuan watt, kita temukan di hampir semua kota. Keindahan seperti apakah yang hendak kita ciptakan? Yang ada hanya pemborosan. Yang ada kebanggaan semu. Keindahannya pun keindahan palsu…

Ketika harimau tumbuh sayap…

Gila! Hebat! Itu juga komentar yang bisa kita arahkan kepada posisi lembaga kepresidenan saat ini. Dulu banyak pihak membayangkan betapa presiden pasca-Megawati akan seperti bebek yang limbung dan itu masih diyakini sampai muncul berita Kalla terpilih sebagai ketua umum Golkar pada Minggu dinihari kemarin.

Harga naik, siapa peduli?

Budaya kenduri, jelas memberikan dukungan nyata bagi perkembangan industri tikar. Ada kematian, kenduri. Ada kelahiran, kenduri. Dan sepertinya belum pernah ada cerita kenduri dilakukan ala standing party. Pastilah dengan cara lesehan dan semua itu butuh tikar. Juga, tikar digunakan oleh semua “jenis” manusia. Orang yang punya hobi gaple, melaksanakan hajatnya beralaskan tikar. Orang yang punya hobi beribadah, juga berlama-lama sujud menyembah Sang Pencipta beralaskan tikar.

Blok Ambalat, Blok M dan blokong…

Memang akhirnya demikianlah nasib Blok Ambalat. Kalau itu ibarat bagian tubuh kita, maka dia tidak ubahnya dengan blokong alias pantat. Kalau sekarang diklaim sebagai milik Malaysia, anggap saja pantat kita sedang bisulan. Tidak perlu rasa sakit itu melebar ke soal kedaulatan negara dan harga diri.

Maling intelek

Plagiat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memang berarti “pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri…; jiplakan”. Namun, saya cenderung sependapat dengan Arya B Gaduh, yang menulis tentang persoalan plagiat ini di weblog-nya, bahwa esensi penjiplakan bukanlah “pengambilan” tetapi “pencurian”. Sebab, seperti dikatakannya, akar kata “plagiat” berasal dari bahasa Latin, plagiarius, yang berarti “penculik”, dan plagiare yang berarti “mencuri”.

Tim (pasti) sukses

Saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara pikir kawan saya yang satu itu. Bagaimana bisa dia menghubungkan profesionalisme dengan pekerjaan seorang anggota tim sukses calon kepala daerah. Sebab, di Indonesia ini belum dikenal adanya tim sukses dalam Pilkada sebagai suatu profesi. Juga, bekerja profesional, bagi dia mungkin adalah semata-mata bekerja dan mendapat bayaran. Tidak perlu etika, tidak perlu menggunakan hati nurani.

Budaya telanjang

Budaya telanjang kita, budaya bugil kita, pada satu sisi, berjalan seiring dengan maraknya pornografi dan pornoaksi pada sisi yang lain. Yang pertama muncul sebagai akibat dari dorongan keinginan mengejar materi, yang kedua muncul sebagai akibat mengejar pemuas nafsu berahi. Keduanya sama-sama memamerkan ketelanjangan. Yang pertama pamer ketelanjangan tindakan, yang kedua memamerkan ketelanjangan raga.

MU dan Pilkada

Demikianlah kenyataannya. Meskipun uang bertumpuk, bukanlah jaminan bagi siapa saja untuk bisa merebut kursi kekuasaan. Calon yang tidak didukung taktik dan strategi yang pas untuk menyiasati segala lika-liku perjalanan Pilkada, pastilah tak bakalan memenangi kompetisi.

Tragedi itu bernama ujian nasional…

Itu semua adalah kenyataan, seperti halnya kenyataan bahwa pemerintah belum mampu menyediakan anggaran pendidikan sebanyak yang digariskan oleh konstitusi. Itulah faktanya, sebagaimana fakta bahwa pemerintah belum bisa memberikan pendidikan yang adil dan merata kepada seluruh warganya. Dan yang lebih nyata lagi adalah betapa Mendiknas telah cuci tangan atas kegagalan puluhan ribu siswa untuk melewati ujian nasional.

Bersama (siapa) kita bisa (apa)?

Dengan pikiran mereka pula, manusia bisa mengatasi naluri kebinatangan dan bertindak menusiawi. Perbuatan mereka bukan semata-mata actus hominis yang disetir hukum biologi, tetapi adalah actus humanus karena sarat dengan pertimbangan akal dan budi. Manusia juga bukan makhluk yang penyendiri, karena dia adalah makhluk yang harus hidup bersama dengan yang lain (zoon politikon).

Pornografi versus presiden

Nilai-nilai kepantasan dan kepatutan, itulah sesungguhnya yang menyebabkan sebuah komunitas sepakat mengikatkan diri di bawah aturan hukum. Ketika aturan hukum tertentu tidak mampu lagi melindungi nilai-nilai kepantasan dan kepatutan, pada saat itulah aturan hukum baru dirumuskan. Namun ada kalanya proses ini macet karena terjadi tarik-ulur kepentingan di dalam masyarakat. Di sinilah gerak langkah seorang pemimpin dibutuhkan. Di sinilah peran pemimpin sangat menentukan.

Membutakan hati menulikan nurani

Perasaan kehilangan atas keluarga, harta dan benda, serta rasa kesepian, kesakitan, bingung dan linglung adalah sekian akibat dari bencana. Hanya saja, saat ini perasaan demikian nyaris merata dirasakan para korban tsunami dan itu kita sebut sebagai bencana besar. Oleh karena itu, besar pula perhatian dan kepedulian kita. Tetapi bencana “kecil”, apakah selama ini kita sempat menengoknya?

Di sekitar kita, tidak kurang orang yang terampas hak-haknya. Banyak di antara mereka yang hidup dalam kesakitan, kedinginan, kehilangan orang-orang terkasihnya dan diserobot penghidupannya. Mereka juga bingung dan linglung. Tetapi itu semua kita sebut bencana “kecil” dan bahkan kita menganggapnya bukanlah bencana. Jangankan tergerak untuk menolong atau sekadar bersimpati, kita bahkan tidak peduli.

Sejarah Aceh, sejarah abu-abu

Namun selain abu-abu asli, bumi Aceh penuh dengan catatan abu-abu yang membingungkan. Sejarah Aceh pasca kemerdekaan Indonesia adalah sejarah abu-abu yang telah direkayasa. Penguasa merekayasa data dan fakta sebagai jalan pembenar untuk melakukan kekerasan, sedang kelompok pemberontak merekayasa data dan fakta sebagai pembenar untuk memisahkan diri dari pangkuan republik ini.

Temanggung tak lagi damai…

Temanggung dulu memang sejuk. Tetapi entah mengapa, sekarang banyak orang di sana merasa kegerahan. Malah banyak yang terpaksa berjumpalitan di alun-alun, sekadar untuk meneriakkan aspirasi. Temanggung dulu juga penuh kedamaian. Tidak ada pertikaian antarpenduduk yang merisaukan. Tidak pernah ada huru-hara yang serius kecuali saat ada rembetan kerusuhan anti-Cina di Solo awal 80-an maupun keributan menjelang runtuhnya rezim Soeharto.

Ke mana perginya kesejukan itu? Ke mana hilangnya kedamaian itu?

O, Betapa Kecilnya Papa…

Anakku, kekasihku Ketika Papa menulis surat ini, kau sedang tidur nyenyak dalam dekapan Mama. Tidak mengapa, anakku, karena memang baru itulah salah satu dari sedikit hal yang bisa kau lakukan pada usia sembilan bulanmu. Saat Papa goreskan tulisan ini, kau belum genap mengeja kata, anakku, bahkan untuk sekadar melafalkan kata “Mama”. Banyak penipu catut nama…

Karena dia adalah seorang ayah…

Entah sosok guru mana yang digambarkan Iwan Fals dalam lagu Guru Oemar Bakri. Namun bagi saya, lagu tersebut bukan sekadar stereotip kondisi guru pada akhir dekade 1970 ketika lagu itu dirilis. Sebab, setiap mendengar Oemar Bakri, muncullah sebuah gambar hidup yang bergerak perlahan di ingatan saya. Slow motion itu adalah rekaman kehidupan seorang laki-laki yang…