KOLOM

Solo berseri dalam kebengkongan…

Solo berseri dalam kebengkongan…

Korban rel bengkong, tidaklah terbatas pada “dia” atau “mereka” sebagai orang-orang yang tidak kita kenal. Mereka bisa kawan kita, tetangga kita, kakak kita, anak kita, isteri atau suami kita, bahkan bisa diri kita sendiri. Tidak peduli siapapun orangnya, meraka adalah manusia. Kalau kita percaya, seharusnya nilai nyawa mereka lebih dari sekadar benda ekonomi. Penghargaan terhadap mereka, seharusnya, melebihi penghargaan kita terhadap kebanggaan masa lalu. Sebuah kebanggaan yang seringkali semu….

American influenza lebih mematikan…

American influenza lebih mematikan…

Monopoli di bidang ekonomi dan hegemoni di bidang politik adalah obsesi para penguasa Amerika. Mereka akan merebutnya dengan berbagai cara, baik secara halus dengan pemanfaatan dan penyebaran isu, ataupun secara kasar dengan todongan moncong peluru kendali.

Hemat membawa sengsara…

Hemat membawa sengsara…

Pemborosan seperti itu memang kita lihat sehari-hari. Berapa persen mobil pribadi dan juga mobil dinas yang berseliweran di jalanan yang terisi penuh sesuai kapasitas penumpang? Pada saat bersamaan, kita lihat pula mobil-mobil angkutan penumpang umum hanya terisi satu-dua orang. Juga, lihatlah kehidupan malam di sekeliling kita. Lampu terang benderang di jalan-jalan sepanjang ribuan kilometer. Semua jorjoran melebihi kebutuhan. Belum lagi lampu sorot ribuan watt, kita temukan di hampir semua kota. Keindahan seperti apakah yang hendak kita ciptakan? Yang ada hanya pemborosan. Yang ada kebanggaan semu. Keindahannya pun keindahan palsu…

Ketika harimau tumbuh sayap…

Ketika harimau tumbuh sayap…

Gila! Hebat! Itu juga komentar yang bisa kita arahkan kepada posisi lembaga kepresidenan saat ini. Dulu banyak pihak membayangkan betapa presiden pasca-Megawati akan seperti bebek yang limbung dan itu masih diyakini sampai muncul berita Kalla terpilih sebagai ketua umum Golkar pada Minggu dinihari kemarin.

Harga naik, siapa peduli?

Harga naik, siapa peduli?

Budaya kenduri, jelas memberikan dukungan nyata bagi perkembangan industri tikar. Ada kematian, kenduri. Ada kelahiran, kenduri. Dan sepertinya belum pernah ada cerita kenduri dilakukan ala standing party. Pastilah dengan cara lesehan dan semua itu butuh tikar. Juga, tikar digunakan oleh semua “jenis” manusia. Orang yang punya hobi gaple, melaksanakan hajatnya beralaskan tikar. Orang yang punya hobi beribadah, juga berlama-lama sujud menyembah Sang Pencipta beralaskan tikar.

Blok Ambalat, Blok M dan blokong…

Blok Ambalat, Blok M dan blokong…

Memang akhirnya demikianlah nasib Blok Ambalat. Kalau itu ibarat bagian tubuh kita, maka dia tidak ubahnya dengan blokong alias pantat. Kalau sekarang diklaim sebagai milik Malaysia, anggap saja pantat kita sedang bisulan. Tidak perlu rasa sakit itu melebar ke soal kedaulatan negara dan harga diri.

Maling intelek

Maling intelek

Plagiat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memang berarti “pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri…; jiplakan”. Namun, saya cenderung sependapat dengan Arya B Gaduh, yang menulis tentang persoalan plagiat ini di weblog-nya, bahwa esensi penjiplakan bukanlah “pengambilan” tetapi “pencurian”. Sebab, seperti dikatakannya, akar kata “plagiat” berasal dari bahasa Latin, plagiarius, yang berarti “penculik”, dan plagiare yang berarti “mencuri”.

Tim (pasti) sukses

Tim (pasti) sukses

Saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara pikir kawan saya yang satu itu. Bagaimana bisa dia menghubungkan profesionalisme dengan pekerjaan seorang anggota tim sukses calon kepala daerah. Sebab, di Indonesia ini belum dikenal adanya tim sukses dalam Pilkada sebagai suatu profesi. Juga, bekerja profesional, bagi dia mungkin adalah semata-mata bekerja dan mendapat bayaran. Tidak perlu etika, tidak perlu menggunakan hati nurani.

Budaya telanjang

Budaya telanjang

Budaya telanjang kita, budaya bugil kita, pada satu sisi, berjalan seiring dengan maraknya pornografi dan pornoaksi pada sisi yang lain. Yang pertama muncul sebagai akibat dari dorongan keinginan mengejar materi, yang kedua muncul sebagai akibat mengejar pemuas nafsu berahi. Keduanya sama-sama memamerkan ketelanjangan. Yang pertama pamer ketelanjangan tindakan, yang kedua memamerkan ketelanjangan raga.

MU dan Pilkada

MU dan Pilkada

Demikianlah kenyataannya. Meskipun uang bertumpuk, bukanlah jaminan bagi siapa saja untuk bisa merebut kursi kekuasaan. Calon yang tidak didukung taktik dan strategi yang pas untuk menyiasati segala lika-liku perjalanan Pilkada, pastilah tak bakalan memenangi kompetisi.

Tragedi itu bernama ujian nasional…

Tragedi itu bernama ujian nasional…

Itu semua adalah kenyataan, seperti halnya kenyataan bahwa pemerintah belum mampu menyediakan anggaran pendidikan sebanyak yang digariskan oleh konstitusi. Itulah faktanya, sebagaimana fakta bahwa pemerintah belum bisa memberikan pendidikan yang adil dan merata kepada seluruh warganya. Dan yang lebih nyata lagi adalah betapa Mendiknas telah cuci tangan atas kegagalan puluhan ribu siswa untuk melewati ujian nasional.

Bersama (siapa) kita bisa (apa)?

Bersama (siapa) kita bisa (apa)?

Dengan pikiran mereka pula, manusia bisa mengatasi naluri kebinatangan dan bertindak menusiawi. Perbuatan mereka bukan semata-mata actus hominis yang disetir hukum biologi, tetapi adalah actus humanus karena sarat dengan pertimbangan akal dan budi. Manusia juga bukan makhluk yang penyendiri, karena dia adalah makhluk yang harus hidup bersama dengan yang lain (zoon politikon).