Dalam situasi ketidakpastian dan krisis kepercayaan atas diri sendiri, manusia memang akan mencari pegangan. Nah, inilah kesempatan yang kemudian diambil oleh pihak lain yang pintar memanfaatkan situasi. Coba lihat itu kemunculan para dukun ramal di televisi. Entah itu yang diampu oleh orang-orang yang tadinya memang terkenal sebagai paranormal, seperti Imam Suroso, Joko Bodo, atau peramalam … Continue reading
Korban rel bengkong, tidaklah terbatas pada “dia” atau “mereka” sebagai orang-orang yang tidak kita kenal. Mereka bisa kawan kita, tetangga kita, kakak kita, anak kita, isteri atau suami kita, bahkan bisa diri kita sendiri. Tidak peduli siapapun orangnya, meraka adalah manusia. Kalau kita percaya, seharusnya nilai nyawa mereka lebih dari sekadar benda ekonomi. Penghargaan terhadap mereka, seharusnya, melebihi penghargaan kita terhadap kebanggaan masa lalu. Sebuah kebanggaan yang seringkali semu…. Continue reading
Monopoli di bidang ekonomi dan hegemoni di bidang politik adalah obsesi para penguasa Amerika. Mereka akan merebutnya dengan berbagai cara, baik secara halus dengan pemanfaatan dan penyebaran isu, ataupun secara kasar dengan todongan moncong peluru kendali. Continue reading
Pemborosan seperti itu memang kita lihat sehari-hari. Berapa persen mobil pribadi dan juga mobil dinas yang berseliweran di jalanan yang terisi penuh sesuai kapasitas penumpang? Pada saat bersamaan, kita lihat pula mobil-mobil angkutan penumpang umum hanya terisi satu-dua orang. Juga, lihatlah kehidupan malam di sekeliling kita. Lampu terang benderang di jalan-jalan sepanjang ribuan kilometer. Semua jorjoran melebihi kebutuhan. Belum lagi lampu sorot ribuan watt, kita temukan di hampir semua kota. Keindahan seperti apakah yang hendak kita ciptakan? Yang ada hanya pemborosan. Yang ada kebanggaan semu. Keindahannya pun keindahan palsu… Continue reading
Gila! Hebat! Itu juga komentar yang bisa kita arahkan kepada posisi lembaga kepresidenan saat ini. Dulu banyak pihak membayangkan betapa presiden pasca-Megawati akan seperti bebek yang limbung dan itu masih diyakini sampai muncul berita Kalla terpilih sebagai ketua umum Golkar pada Minggu dinihari kemarin. Continue reading
Budaya kenduri, jelas memberikan dukungan nyata bagi perkembangan industri tikar. Ada kematian, kenduri. Ada kelahiran, kenduri. Dan sepertinya belum pernah ada cerita kenduri dilakukan ala standing party. Pastilah dengan cara lesehan dan semua itu butuh tikar. Juga, tikar digunakan oleh semua “jenis” manusia. Orang yang punya hobi gaple, melaksanakan hajatnya beralaskan tikar. Orang yang punya hobi beribadah, juga berlama-lama sujud menyembah Sang Pencipta beralaskan tikar. Continue reading
Memang akhirnya demikianlah nasib Blok Ambalat. Kalau itu ibarat bagian tubuh kita, maka dia tidak ubahnya dengan blokong alias pantat. Kalau sekarang diklaim sebagai milik Malaysia, anggap saja pantat kita sedang bisulan. Tidak perlu rasa sakit itu melebar ke soal kedaulatan negara dan harga diri. Continue reading
Plagiat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memang berarti “pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri…; jiplakan”. Namun, saya cenderung sependapat dengan Arya B Gaduh, yang menulis tentang persoalan plagiat ini di weblog-nya, bahwa esensi penjiplakan bukanlah “pengambilan” tetapi “pencurian”. Sebab, seperti dikatakannya, akar kata “plagiat” berasal dari bahasa Latin, plagiarius, yang berarti “penculik”, dan plagiare yang berarti “mencuri”. Continue reading
Saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara pikir kawan saya yang satu itu. Bagaimana bisa dia menghubungkan profesionalisme dengan pekerjaan seorang anggota tim sukses calon kepala daerah. Sebab, di Indonesia ini belum dikenal adanya tim sukses dalam Pilkada sebagai suatu profesi. Juga, bekerja profesional, bagi dia mungkin adalah semata-mata bekerja dan mendapat bayaran. Tidak perlu etika, tidak perlu menggunakan hati nurani. Continue reading
Budaya telanjang kita, budaya bugil kita, pada satu sisi, berjalan seiring dengan maraknya pornografi dan pornoaksi pada sisi yang lain. Yang pertama muncul sebagai akibat dari dorongan keinginan mengejar materi, yang kedua muncul sebagai akibat mengejar pemuas nafsu berahi. Keduanya sama-sama memamerkan ketelanjangan. Yang pertama pamer ketelanjangan tindakan, yang kedua memamerkan ketelanjangan raga. Continue reading