About these ads

Tangkarkan serindit dan saatnya “go national”

Tangkarkan serindit dan saatnya “go national”
Produk berkualitas pemacu produktivitas burung

Burung serindit mestinya bisa segera go national, dalam arti bisa dinikmati semua kicaumania di Indonesia baik untuk hiburan di rumah atau diturunkan dalam even lomba. Sejauh ini, penggemar serindit lebih terkonsentrasi di Sumatera dan Kalimantan. Begitu pula dengan lomba burung kelas serindit, selama ini baru sebatas digelar di kedua pulau tersebut. Padahal serindit layak menjadi burung kicauan maupun burung hias, sebagaimana saudara jauhnya, lovebird. Lanjut membaca

About these ads

Membuat nektar buatan untuk burung kicauan

Membuat nektar buatan untuk burung kicauan
Referensi Wajib Baca

Memelihara burung kicauan, khususnya untuk keluarga burung madu atau sunbird (sebagian kicaumania sering memahaminya sebagai “kolibri”), membutuhkan perhatian tersendiri. Burung madu kini banyak dipelihara, baik untuk dilombakan (terutama di Sumatera), atau dijadikan masteran bagi burung kicauan yang lain (terutama murai batu). Sebab pakan utama burung madu di alam liar adalah nektar, yaitu cairan kaya gula yang terdapat dalam bunga. Selain burung madu, jenis burung lain yang suka mengisap nektar adalah pleci dan serindit. Bagaimana jika kita sulit mendapatkan nektar? Lanjut membaca

Merawat burung serindit agar cepat gacor

Referensi Wajib Baca

Serindit kini mulai ramai meramaikan khazanah perburungan Nusantara. Kalau sepanjang tahun lalu hanya dilombakan di wilayah Sumatera dan Kalimantan, siapa tahu tahun ini bisa dilombakan di daerah lain, atau ikut menikmati kejayaan burung paruh bengkok lainnya seperti lovebird, parkit, dan palek (cocktaiel). Kali ini akan dibahas perawatan burung serindit, termasuk bagaimana membuatnya cepat gacor, sebagaimana permintaan beberapa kicaumania dalam komentarnya di omkicau.com maupun Facebook Burung. Lanjut membaca

Gara-gara jadi maskot PON, burung serindit jadi buron nomer 1 di Pekanbaru

Kasihan bener nih nasib burung serindit. Gara-gara jadi maskot Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di Riau, burung ini menjadi burung yang paling banyak dicari untuk dipelihara di Pekanbaru, Riau. Paling tidak itulah kisah yang diceritakan wartawan yang melakukan pengamatan atas transaksi burung  ini di pasar burung di Pekanbaru.

Burung serinditDalam sangkar besi yang tak begitu besar, demikian ceritanya sebagaimana dimuat solopos.com, belasan burung serindit lahap mematuk-matuk pakan yang diberikan Chairul Hadi, 35, pedagang burung di Pasar Palapa, Pekanbaru. Burung-burung itu baru saja dikirimkan seorang tukang pikat atau penangkap burung langganannya dari kampung pinggiran Pekanbaru.

Menurut Hadi Madura, panggilan akrab Chairul Hadi (lantaran ia berasal dari Pulau Madura), ia memang biasa menerima burung-burung Serindit hasil pikatan dari hutan – bukan hasil penangkaran- untuk dijual kembali di pasar burung terbesar di Pekanbaru itu.

Hadi sengaja memesan banyak burung serindit, karena akhir-akhir ini banyak pengunjung pasar yang menanyakan burung lincah bergelar Si Panglima Hijau itu. Serindit saat ini memang menjadi fauna paling tersohor di Pekanbaru, karena menjadi Maskot PON XVIII/2012 Riau itu.

“Banyak pengunjung yang tiba-tiba menanyakan apakah saya menjual burung serindit,” kata bapak dua anak itu. Beberapa dari mereka, kata Hadi, membeli burung berparuh hitam itu. Menurut Hadi, Serindit termasuk burung yang favorit, meskipun bukan burung kicauan “kelas satu”, seperti halnya murai batu, kenari, cucakrowo, lovebird, anis merah ataupun anis kembang.

Di Pasar Palapa, seekor serindit dijual Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, harga yang relatif murah dibanding murai batu yang bisa mencapai Rp3 jutaan. Menurut Hadi, sebenarnya serindit sangat cocok untuk penggemar burung pemula. Burung bertubuh 12 sentimeter yang lincah dan pemberani itu, cocok dipelihara oleh penggemar awam, karena mudah pemeliharaannya. “Tak perlu susah-susah atau mahal pakannya. Kasih nasi saja, serindit pasti mau,” katanya berkelakar.

Serindit terkadang juga disandingkan oleh pemilik burung murai batu, untuk dijadikan “master”, agar kicauan Murai batu menjadi kian varitif dan melengking. Ini lantaran kicauannya memiliki irama yang panjang, tajam dan keras. Namun pada masa melayu Riau klasik, burung Serindit memiliki tempat istimewa dan bahkan terikat dalam tali sejarah yang panjang dengan masyarakat Bumi Lancang Kuning.

Burung serindit

Rakyat Melayu Riau mengabadikan serindit dalam berbagai cerita rakyat. Dalam dongeng rakyat Melayu yang kerap dikisahkan oleh penutur lisan, serindit menjadi simbol kebijaksanaan, keindahan, keberanian, kesetiaan, kerendahan hati dan kearifan. “Itulah mengapa serindit masuk pula dalam lambang Propinsi Riau, yakni pada hulu keris yang disebut hulu keris kepala serindit,” kata budayawan Riau Anas Aismana.

Dulu pada tiap-tiap teritis rumah rakyat Melayu Riau tak jauh dari ambang pintu muka, tergantung burung serindit yang menjadi penanda kearifan dan kerendahan hati sang empunya, serta penolak bala. Sekarang masyarakat Riau, apalagi generasi mudanya amat jarang melihat apalagi mengenal lebih dalam burung bernama latin Loriculus galgulus (Linnaeus) itu. Burung yang termasuk dalam ordo psittaciformes dan famili Psittacidae atau burung paruh bengkok itu makin sulit ditemui di Pekanbaru, karena pohon-pohon tempat hinggap, mencari makan, dan bersarang, telah disulap menjadi hutan beton.

Serikat Antarbangsa bagi Konservasi Alam (IUCN/International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), dalam IUCN Red List, menetapkan status konservasi burung Serindit pada level “Least Concern” (LC), atau berisiko rendah. Artinya burung yang lincah dan enerjik itu, masih ada di alam bebas, namun agar tak terancam kehidupannya, habitat aslinya perlu dipelihara.

UICN Red List selama ini dinilai merupakan sistem klasifikasi spesies yang paling objektif mengenai kelangkaan suatu spesies. Burung serindit perlu diberi ruang hidup dengan menciptakan kantung-kantung habitat, agar Riau, yang selama ini dikenal sebagai daerah yang memiliki populasi serindit yang terbesar, tetap menjadi pemilik sah satwa identitas Bumi Lancang Kuning. (*)

Jenis-jenis burung pijantung atau cucuk jantung genus Arachnothera

Burung cucuk jantung atau pijantung (spiderhunters) termasuk dalam genus Arachnothera, bagian dari keluarga Sunbird Nectariniidae. Genus ini terdiri sebelas spesies yang ditemukan di hutan Asia Selatan dan tenggara. Burung-burung ini makan nektar dan berbagai serangga (arthropoda) kecil.

Lanjut membaca

“Memelihara” burung goldfinch liar di kebun rumah: video

Suatu ketika saya bermimpi bisa memelihara burung-burung liar di kebun rumah, dengan menyediakan pakan dan minuman untuk mereka, sehingga mereka bisa terbang ke manapun dia suka dan pulang ketika perlu makan. Di Eropa atau Amerika, hal itu sudah umum dilakukan. Namun hal itu tampaknya mustahil untuk diwujudkan di Indonesia. Jangankan di kebun, di hutan pun jumlah burung kicauan semakin menipis. Mengapa? Anda sudah pasti tahu jawabannya, hehe. Lanjut membaca

Burung sikatan belang atau sambar gunung (Little Pied Flycatcher)

Di dinding halaman Hobi Burung Kicauan dan Penangkaran di FB, kawan kita Santi Oktava mengupload foto seekor burung yang belum dikenalnya.  Dia bertanya “om, ni burung apa yaa? makan ny apa….. kayakny stress ni burungny diem222 aja… mohon petunjukkk”.  Berikut ini adalah foto yang dia tunjukkan: Lanjut membaca

Gila, burung serindit itu cuma 15 ribu sepasang

Burung serindit (keluarga Loricus) yang sebenarnya termasuk burung yang dilindungi, dijual bebas di Bangka dengan harga cuma 8.000 rupiah per ekor atau kalau beli sepasang hanya Rp. 15.000. Masalahnya, benarkah itu serindit?

Serindit apa emprit ya kok dijual bebas cuma 15 ribu sepasang

Burung yang dijual di kawasan pasar itu malah beberapa di antaranya diberi warna-warni yang kalau di Jawa memang hanya berlaku untuk burung emprit, anak puyuh jantan ataupun anak ayam. Tujuan pewarnaan adalah agar menarik minat anak-anak untuk membelinya.

Adalah Risdi nama pedagangnya. Sebagaimana dikabarkan BangkaPos, Risdi merasa senang walau hanya dengan berjualan burung serindit (?),  ia mampu menghidupi keluarganya di kampung. Risdi mengaku dalam satu hari dapat menjual 100 ekor burung. Lanjut membaca

Dengar dan download suara burung rambatan

Dengar dan download suara burung rambatan: Lanjut membaca

Dengar dan download suara burung hwa mei, hwamei atau wambi

Dengar dan download suara burung hwa mei atau hmamei atau wambi: Lanjut membaca

Burung serindit, dencingnya menggairahkan…

Burung serindit atau srindit paruh hitam

Di rumah saya, sekarang ini sering terdengar suara dencing yang semula oleh isteri saya dikira suara celurut. Padahal itu adalah suara burung srindit atau serindit. Burung itu saya bawa dari tempat Om Dwi Lovebird Jogja untuk memaster murai batu.

Suaranya memang mengasyikkan dan menggairahkan hehehe. Dencing suara serindit jika bisa masuk ke suara murai batu, tentu akan menjadikan suara si murai jadi dahsyat. Sebab, dencing suara serindit yang dibawakan murai batu tentu akan beberapa kali lebih keras ketimbang dibawakan oleh srindit sendiri.

Serindit paruh hitam itu (ada serindit paruh merah yang biasanya berkembang biak di Jawa) diperoleh Om Dwi dari Om Robby Alamsyah yang mukim di Balikpapan. Seingat saya ada enam ekor serindit di tempat Om Dwi dan sepasang di antaranya itulah yang saya bawa ke Solo. Dan di rumah, saat ini menjadi suara masteran favorite saya. Lanjut membaca

Dengar dan download suara gelatik, waterslager, dan spanish timbrado

Selamat malam Om dan Tante.

Via email, saya dikirimi file empat suara burung oleh Om Tony Alamsyah Cilacap. Om Tony  alias Om Bajak Laut adalah salah satu majikan Black Bird Keeping (BBK) yakni penangkaran murai batu, kenari F1 YorkShire dan lovebird. BBK Cilacap ini merupakan penangkaran kolaborasi antara Om Bajak Laut dan Om Dwi Lovebird Jogja dan. Lanjut membaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42.318 pengikut lainnya.