Sejumlah breeder burung kenari dan jenis finch lainnya kerap mengeluh, burung yang semula sehat tiba-tiba mati tergeletak di dasar kandang. Dalam beberapa kasus, para penggemar burung kenari dan finch (bukan peternak) juga menjumpai kasus serupa. Mengapa burung yang semula sehat tiba-tiba mati? Yuk, kita cek apa saja penyebab kematian mendadak pada burung kenari dan finch, serta yang terpenting bagaimana cara mencegahnya.

Cara gampang mencari artikel omkicau.com, klik di sini.

Burung akan mengembangkan bulu-bulunya jika ada yang tidak beres dalam tubuhnya | foto: devianart

Kematian mendadak pada burung kenari dan finch biasanya terjadi akibat penyakit yang dideritanya. Kita abaikan dulu ya soal penyakit flu burung yang disebabkan virus H5N1. Kok begitu?

Ya, karena berdasarkan pengamatan selama ini, kasus flu burung lebih sering menimpa itik, ayam, dan puyuh. Jarang sekali terjadi pada burung kicauan, perkutut, maupun merpati. Bahkan sebagian kalangan menyebut kasus ini cenderung berbau politis dan kepentingan bisnis.

Banyak jenis penyakit di luar flu burung yang bisa menyebabkan kenari dan finch mengalami kematian mendadak. Apabila burung mendadak terkena penyakit, lalu mati mendadak pula, sebenarnya itu pemahaman kita saja. Kalau saja burung bisa ngomong, tentu dia akan bercerita mengenai penyakitnya, he.. he.. he..

Ya, sebelum mengalami kematian mendadak, burung sebenarnya sudah sakit terlebih dulu, baik yang disebabkan oleh agen penyakit berbentuk virus, bakteri, jamur, maupun parasit. Sebagian termanifestasi melalui gejala klinis yang muncul atau dapat kita lihat, namun sebagian lagi terkadang tidak muncul.

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar, burung pun pandai menyembunyikan kondisi kesehatannya. Sekilas tidak masuk akal, tetapi sebenarnya logis juga. Di alam liar, burung tidak mau terlihat sakit, baik di depan burung sejenis maupun burung jenis lainnya. Dengan memperlihatkan kondisinya yang sakit, maka dia akan menjadi bulan-bulanan burung lain.

Adapun penyakit paling sering mengakibatkan kematian mendadak pada burung kenari dan finch adalah infeksi pernafasan. Penyakit ini biasanya muncul pada pergantian musim, baik dari musim kemarau ke musim hujan maupun sebaliknya. Masa peralihan ini disebut pancaroba, dan sebentar lagi akan terjadi di Indonesia.

Beberapa gejala klinis dari burung kenari dan finch yang mengalami infeksi pernafasan antara lain:

  • Burung sering mengembangkan bulu-bulunya, sehingga bulunya terlihat acak-acakan. Jadi, ketika Anda menjumpai burung dalam kondisi seperti ini (bukan hanya kenari dan finch saja), sebaiknya cepat tanggap dan segera memberi pertolongan pertama.
  • Burung lebih sering tidur daripada biasanya, terutama pada saat hari terang di mana ia seharusnya banyak bergerak.
  • Burung mendadak kurang aktif, hanya berdiam diri di atas tangkringan, atau lebih sering berdiam di dasar sangkar. Istilah dalam bahasa Jawa, burung nyekukruk.
  • Nafas burung tersengal-sengal atau terengah-engah, seperti menahan sakit.
  • Kotoran burung sering berwarna kekuningan, putih, atau bening.
  • Area di sekitar dubur tampak basah. Tengara yang satu ini cukup akurat untuk mendeteksi apakah burung sakit atau sehat. Jika sehat, daerah di sekitar dubur cenderung kering dan bersih.

Para peternak maupun pemilik burung kenari dan finch biasanya memberikan pertolongan pertama dengan menempatkan burung dalam kandang karantina yang bagian atasnya diberi lampu penghangat. Tapi faktanya, pemberian lampu ini  justru mengakibatkan penyakit infeksi pernafasan makin bertambah parah.

Karena itu, khusus untuk infeksi pernafasan, dokter hewan di Eropa justru tidak menyarankan penggunaan lampu pemanas bagi burung yang sedang sakit. Sebab temperatur di dalam sangkar yang bertambah panas bisa membuat penyakitnya jadi bertambah parah, yang bisa berakhir dengan kematian mendadak.

Penggunaan kandang karantina yang disertai lampu penghangat tetap bermanfaat bagi burung yang menderita sakit di luar infeksi pernafasan. Burung kenari atau finch yang terkena flu akibat cuaca dingin, misalnya, bisa diterapi dengan cara ini.

Penyebab infeksi pernafasan pada burung kenari dan finch sebenarnya sangat banyak. Om Kicau pun sudah pernah menulis artikel terkait mengenai hal ini dengan sangat detail.

(baca juga Deteksi gangguan pernafasan pada burung )

Kalau Anda menjumpai kenari / finch dalam kandang ternak maupun sangkar mengalami gejala klinis seperti dijelaskan di atas, maka tindakan pertama yang perlu dilakukan adalah memindahkan burung tersebut ke kandang karantina.

Dapatkan aplikasi Omkicau.com Gratis...

Letakkan kandang karantina ini jauh dari kandang / sangkar burung yang masih sehat. Ingat, kandang karantina tak perlu dilengkapi dengan lampu pemanas. Usahakan burung berada dalam ruangan dengan suhu kamar.

Jika di Eropa, suhu kamar biasanya 20-25 derajat Celcius pada saat musim panas. Tetapi di Indonesia, suhu kamar berada dalam kisaran 28 – 29 derajat Celcius.

Suhu udara dalam kandang perlu dijaga terutama saat musim hujan.

Cara mudah punya ribuan file MP3 suara burung, klik di sini.

Kemudian berikan pengobatan secara tepat dan teratur, berdasarkan jenis penyakitnya. Sebagai panduan, berikut ini jenis penyakit pernafasan dan pengobatannya:

  • Infeksi pernafasan akibat penyakit CRD (chronic respiratory disease) / avian mycoplasmosis bisa disembuhkan dengan StopSnot. Apa dan bagaimana penyakit CRD, silakan lihat di sini.
  • Infeksi pernafasan akibat penyakit koriza / infectious coryza. Pengobatannya sama seperti CRD, yaitu StopSnot. Apa dan bagaimana penyakit koriza, silakan buka arsipnya di sini.
  • Infeksi pernafasan akibat penyakit ILT (infectious laryngotracheitis) bisa diobati dengan BirdTwitter. Gejala klinis dan informasi lengkap mengenai penyakit ILT bisa dilihat di sini.
  • Infeksi pernafasan akibat penyakit colibacillosis / colisepticemia juga bisa diobati dengan Bird Twitter. Informasi mengenai penyakit ini bisa dilihat di sini.
  • Infeksi pernafasan akibat tungau kantung udara / air sac mites bisa diobati dengan BirdFresh. Gejala dan informasi mengenai penyakit tersebut dapat dilihat di sini.
  • Infeksi pernafasan akibat penyakit AI (avian influenza). Sayangnya sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar efektif untuk  AI. Satu-satunya tindakan yang bisa dilakukan adalah mencegahnya melalui pemberian multivitamin seperti BirdVit, 2-3 kali seminggu. Apa dan bagaimana penyakit AI, Om Kicau pernah menulisnya di sini.
  • Infeksi pernafasan sebagai dampak dari penyakit ND (newcastle disease) atau tetelo. Jika tetelonya diobat, misalnya menggunakan BirdPro, maka gangguan pernafasan akan mereda dengan sendirinya. Informasi mengenai penyakit ND / tetelo bisa dilihat di sini.
  • Infeksi pernafasan sebagai dampak dari penyakit IB (infectious bronchitis). Penyakit ini juga belum ada obatnya, sehingga lebih baik mencegahnya melalui pemberian multivitamin secara rutin, minimal 2-3 kali seminggu. Apa dan bagaimana penyakit IB, silakan buka arsipnya di sini.

Sebagian dari Anda mungkin menganggapnya rumit. Tetapi karena burung merupakan modal sangat berharga bagi setiap penangkar, juga bagi para pemain di lapangan, tentu mau dong belajar mengenali gejala klinis pada burung-burung yang terkena infeksi pernafasan.

Burung-burung yang hidup berkoloni lebih dari 3 ekor rentan terkena infeksi pernafasan.

Satu hal lagi, apabila Anda beternak atau memelihara burung finch secara berkoloni, maka pencegahan terhadap gangguan pernafasan ini mutlak diperlukan. Apabila jumlah burung dalam satu kandang lebih dari tiga ekor, biasakan memberikan multivitamin seperti BirdVit, 2-3 kali dalam seminggu.

Semoga bermanfaat.

Cara gampang mencari artikel di omkicau.com, klik di sini.