Merindukan Kicauan Tledekan Gunung di Gantangan

24296591226_6f973dafda_b

JAKARTA, (KM) – Sekitar tahun 2000-an, burung Tledekan atau Sikatan sempat mendominasi arena lomba burung berkicau. Namun saat ini Tledekan sudah dipastikan tersingkir di berbagai lomba burung berkicau. Bahkan di event besar sekalipun, termasuk dalam event Presiden Cup, Valentine PBI Jogja dan Piala Raja, sudah tidak ada kelas Tledekan.

Bagi Heri Wok, kicaumania asal Purwokerto, memelihara burung Tledekan memiliki seni tersendiri. Pasalnya, burung Tledekan dari segi fisik memang tidak begitu besar, namun memiliki sifat fighter (petarung).

“Mendengarkan suara Tledekan kalau di saat musim penghujan seperti sekarang ini memang merupakan suatu kenikmatan, apalagi suaranya yang klasik akan menggugah perasaan kita untuk suatu keindahan alam pegunungan yang sejuk dan menentramkan,” ujarnya.

- Tanya Om Kicau, silakan di sini.

- Bingung cara mencari artikel di omkicau.com, cek artikel ini.

IKUTI OM KICAU DI INSTAGRAM

Jenis Tledekan yang digemari hingga saat ini adalah Tledekan Gunung yang terdiri dari dua jenis yaitu Sikatan Cacing atau Hill Blue Flycatcher (Cyornis Banyumas) dan Sikatan Bakau atau Mangrove Blue Flycatcher (Cyornis Rufigastra).

Seekor burung Tledekan disebut bagus jika memiliki suara rapat, kencang, penuh getaran (vibrasi), dan gacor. Suara kicauan itu dikeluarkannya dalam posisi berdiri yang tenang, nagen, disertai gaya khas yang disebut nyeklek. Tentu tidak semua tledekan memiliki karakteristik seperti itu.

Heri Wok menjelaskan, sebenarnya masih banyak para kicaumania yang ingin memiliki burung ini, namun yang paling dicari adalah Tledekan Gunung asal Jawa atau biasa disebut Tledekan lokal.

“Banyak para sahabat saya atau para pembeli Tledekan selalu menanyakan dari daerah mana asal burung ini. Jika terlihat berbadan kecil dan ada warna bulu putih di depan mata serta tidak ada bulu putihnya di dada sampai dubur, maka orang urung untuk membelinya, karena diduga Tledekan tersebut bukan lokalan dan harganya pun lebih murah dari harga Tledekan lokalan,” ungkapnya.

Heri Wok mengaku, untuk mencari Tledekan lokal sekarang ini sangat susah, bahkan dirinya sampai rela memikat sendiri burung itu, atau dengan cara ngasih sejumlah uang untuk membayar pemikatnya agar Tledekan hasil pikatannya tidak diberikan orang lain.

Menurut para penghobi, Tledekan lokal yang bagus yang berasal dari pulau Jawa, misalnya dari daerah Ungaran, Lereng Merbabu, Kedu Utara ,Temanggung, Wonosobo , sekitar Lereng Gunung Prau, Banjarnegara atau Purwokerto bagian utara dan timur laut.

Untuk derah timur biasanya dari daerah Gunung Muria Jepara dan Pati. Tapi yang banyak beredar di pasar burung sekarang ialah Tledekan dari Kalimantan dan Sumatera.

Adapun ciri-ciri fisik Tledekan lokal ialah adanya warna bulu putih di sebagian dada sampai ke dubur,bodi biasanya agak bongsor,warna biru muda di ujung kepala agak cerah. Untuk trotolan lokal para pemikat pasang harga di atas Rp150-200 ribu, bahkan ada trotolan yang oleh pemikat dibanderol harga Rp250 ribu.

24296612136_95648bd3af_b

Mengenali Dua Tledekan Gunung

Sikatan Cacing (Cyornis Banyumas) sering disebut sebagai Tledekan Gunung Jawa meski burung ini juga dapat ditemukan di Kalimantan, bahkan persebaran juga ada di sejumlah negara Asia. Di Indonesia hanya memiliki tiga dari delapan keseluruhan ras Tledekan ini. Diantaranya Cyornis Banyumas Ligus di Jawa Barat, Cyornis Banyumas Banyumas di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan Cyornis Banyumas Coeruleatus di Kalimantan.

Bagi para penggemar burung di Indonesia, Tledekan jenis ini dikenal memiliki karakter, mental, dan suara yang bagus. Selain itu, burung juga lebih mudah berkicau dengan ngeroll dengan ciri khasnya nyeklek.

Pada burung jantan, tubuh bagian atas berwarna biru tua. Sedangkan kekang, daerah sekitar mata, pipi depan serta bercak pada dagu berwarna hitam. Dahi dan alisnya pendek, yang berwarna biru muda. Sedangkan tenggorokan, dada, dan sisi tubuh berwarna jingga. Bagian perut berwarna putih.

Sedangkan burung betina memiliki warna yang sama sekali berbeda dari burung jantan, yaitu tubuh atas berwarna kecokelatan, dengan lingkar mata berwarna kuning tua. Sedangkan tubuh bagian bawah mirip burung jantan, namun warnanya lebih pucat.

Sedangkan Sikatan Bakau (Cyornis Rufigastra), terdapat di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Kepulauan Karimunjawa, dan sejumlah daerah Jawa Barat. Namun, meski ada di berbagai daerah, ras yang satu ini tetap dikenal sebagai Tledekan Gunung Kalimantan.

Menurut beberapa kicaumania, Sikatan Bakau lebih sulit berkicau dibandingkan Tledekan dari ras lainnya. Namun dengan perawatan yang telaten, SIKatan Bakau berpotensi menjadi sangat gacor dan bisa bersuara ngeroll.

Jika tidak jeli, Sikatan Bakau sangat mirip Sikatan Cacing. Perbedaannya hanya terletak pada warna dahi yang tidak biru muda, warna dagu yang lebih hitam, serta tubuh bagian bawah yang berwarna merah bata memanjang sampai ke perut.

Untuk menentukan jenis kelamin Sikatan Bakau ini lebih sulit, karena tingkat kemiripan antara jantan dan betina sangat mendekati. Untuk membedakan jenis kelamin Sikatan Bakau, warna biru burung betina terlihat lebih pucat, dengan ciri khas pada paruh atas terdapat kekang keputihan yang membentuk huruf V serta dagu berwarna kekuningan.

23694657534_17901a70b7_b

Memilih Tledekan yang Oke

Sebelum membeli burung Tledekan, baik untuk kelangenan di rumah maupun tujuan lomba, ada beberapa kriteria yang perlu dijadikan pertimbangan. Dalam pemilihan Tledekan Gunung, hal pertama yang harus diperhatikan adalah faktor mentalnya. Mental ini sangat menentukan apakah nantinya burung berkualitas lomba atau tidak.

Tledekan yang mempunyai mental baik pada umumnya akan memiliki beberapa sifat penampilan lebih tenang, tidak ketakutan ketika didekati, terutama untuk burung bahan, sering mengeluarkan suara kicauannya, langsung menyerang dengan sikap berdiri tegak ketika melihat burung Tledekan lain. Makin baik mentalnya, burung akan menampilkan gaya nyeklek.

Burung yang baik bisa diketahui dari warna-warna bulunya yang cerah, rapi, dan berkilau. Jika bulu-bulu di sekitar tubuhnya tampak kusam dan kusut, itu menandakan burung dalam kondisi tidak baik, karena kurang mendapatkan perawatan dan gizi yang memadai.

Selain itu, burung dengan bulu kusam dan kusut biasanya tidak memiliki mental yang baik. Sebab penampilan bulu merupakan salah satu modal ketika ia akan berhadapan dengan burung sejenis maupun pasangannya.

Dalam memilih burung tledekan, jangan lupa mencermati beberapa katuranggan. Di antaranya paruh tebal dan berkontur belimbing (paruh belimbing), tubuh panjang, kepala besar dan ceper, leher lebar, mata belo (melotot) dan jernih tapi tidak berair.

burung dengan penampilan fisik seperti itu biasa memiliki beberapa keistimewaan yaitu burung lebih rajin berbunyi, mempunyai nafas panjang, suara rapat, kencang, dan penuh getaran (vibrasi), dan mudah dimaster dengan suara burung lain.

23695978183_5ec5670506_b

Merawat Tledekan Tidak Sulit

Perawatan sehari-hari burung Tledekan bisa dikatakan hampir sama dengan burung-burung bberkicau lainnya, berikut salah satu contohnya:

Pagi jam 06.00 burung dikeluarkan dari dalam rumah, kemudian buka kerodongnya biarkan bunyi-bunyi dulu untuk beberapa menit. Jam 06.30 burung di mandikan. Cara memandikannya bisa dengan disemprot handspray atau dengan menyediakan bak mandi kecil di dalam sangkarnya. Namun bisa juga dimasukkan ke dalam bak keramba jika ia mau mandi sendiri.

Jangan lupa untuk membersihkan sangkar, hilangkan semua kotoran yang melekat di kandang tersebut. Ada baiknya bila sangkar dibersihkan dengan menggunakan air yang mengandung antiseptik.

Jam 07.00 burung Tledekan dijemur selama 3 jam. Sebelum dijemur berikan jangkrik 3 ekor, kroto sepenuh tempat makanannya (cepuk). Setelah proses penjemuran selesai, kandang burung diturunkan dan jangan langsung di kerodong, biarkan di teras dulu beberapa menit untuk diangin-anginkan. Setelah dirasa cukup barulah dikerodong kembali untuk istirahat.

Jam 15.00, burung dikeluarkan lagi, buka kerodong sangkar kemudian dianginkan kurang lebih 10 menit. Setelah itu burung dimandikan kembali sama halnya seperti pada pagi hari. Jam 15.30 burung dijemur hingga jam 17.00. Sebelum dikerodong cek makanannya, kroto diberikan kembali apabila sudah habis dan tambahkan jangkrik 2 ekor. Barulah setelah itu dikerodong. (giriondeadline/KM)